PRAMOEDYA Ananta Toer dalam bukunya Sang Pemula, yang mengisahkan biografi Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, perintis pers bumiputra lewat Medan Prijaji, menyebut bahwa koran adalah alat perjuangan politik yang paling signifikan dalam membentuk kesadaran kolektif bangsa.
Koran menjadi penggerak perubahan, meretas ideologi perjuangan, dan mendobrak tembok kekuasaan kolonialisme.
Koran menjadi ruang eksplorasi gagasan ideologis, konstruksi kebangsaan, hingga kenegaraan.
Pers mendorong energi berpikir sekaligus bertindak secara progresif bagi berbagai elemen pergerakan menuju kemerdekaan.
Para bapak bangsa mulai dari, Soekarno, Hatta, Yamin, Sjahrir, Tan Malaka, H.O.S. Tjokroaminoto, Tjipto Mangunkusumo, Soewardi Soerjaningrat, hingga Douwes Dekker, menjadikan koran sebagai corong propaganda pemikiran politik yang radikal, melawan narasi tunduk pada hegemoni kolonial.
Koran adalah piranti sosiologis yang menggerakkan zaman. Koran menjadi medium psikologis untuk membangkitkan semangat "sama rata sama rasa" di tengah stratifikasi sosial akibat politik diskriminatif penguasa Hindia Belanda.
Bahkan, pascakemerdekaan, koran tetap menjadi corong penyebar gagasan multiideologi yang mencerdaskan.
Lebih dari itu, koran adalah elemen fungsional dalam membangun peradaban berpikir, berliterasi, dan berideologi.
Koran mendorong lahirnya kesadaran kritis yang berpijak pada realitas sosial. Koran membumikan kecerdasan organik masyarakat di setiap pergantian zaman.
Dalam konteks ini, Jawa Pos hadir bukan hanya sebagai media, tetapi sebagai narasi kolektif yang berperan dalam pencerdasan masyarakat.
Jawa Pos menjadi penjaga moral, menjadi penyeimbang di tengah kekuasaan yang kerap menjurus absolut.
Sejarahnya telah ditulis oleh para perintis dan jurnalisnya. Bagi masyarakat, Jawa Pos adalah kekuatan media yang mencerdaskan dan mencerahkan.
Jawa Pos menjawab kebutuhan publik akan informasi dan edukasi yang jernih, berimbang, dan tanpa pretensi.
Di tengah senjakala media cetak akibat derasnya arus digitalisasi, Jawa Pos tetap bertahan.
Meski tiras menurun, eksistensinya sebagai rujukan informasi nasional tidak memudar.
Jawa Pos tangguh menghadapi disrupsi, bahkan mampu menangkap peluang lewat penguatan produk digital dan platform online dengan tetap menjaga mutu informasi dan edukasi yang disajikan.
Satu hal yang patut diapresiasi dari Jawa Pos Group adalah keberpihakannya yang jelas terhadap pembangunan desa: dari desa wisata, desa kreatif, BUMDesa, hingga inovasi lokal.
Jawa Pos tekun mendorong penguatan narasi desa, menyajikan praktik-praktik terbaik (best practice) yang bisa menjadi cermin dan sumber inspirasi bagi desa lain.
Tak ada kabar baik dari desa yang luput dari pantauan Jawa Pos Group. Jaringan Jawa Pos Radar menjadi simpul informasi yang membanggakan bagi pelaku inovasi desa.
Jawa Pos membangun kepercayaan diri pelaku lokal untuk terus melangkah dalam pemikiran dan aktivitas yang bermanfaat secara sosial dan ekonomis.
Peradaban desa yang maju dan kreatif turut ditopang oleh agenda setting Jawa Pos. Desa terceritakan oleh media yang unggul dalam kualitas literasi.
Yang tak kalah penting, Jawa Pos tetap menunjukkan sikap kritis terhadap kekuasaan.
Jawa Pos tidak seperti sejumlah media online yang terkooptasi, yang ruang opininya dipenuhi propaganda para intelektual “rukang” dan buzzer kekuasaan.
Jawa Pos teguh menjaga independensi sebagai penjaga moral dan pengawas kekuasaan (watchdog).
Harapan besar tertuju pada Jawa Pos agar tetap eksis sebagai penyuara kebenaran yang otentik, penjaga moralitas kebajikan politik, dan tetap berpihak pada desa.
Mengapa desa? Karena desa adalah kunci kekuatan republik.
Jawa Pos adalah poros ekonomi-politik yang menjaga kedaulatan nasional. Desa adalah ruang literasi yang harus dilanggengkan dan dikembangkan.
Masyarakat desa perlu terus didorong menjadi cerdas dan kritis melalui koran yang tetap berpijak pada wajah kerakyatan.
Tantangan terbesar Jawa Pos ke depan adalah bagaimana tetap bertahan dalam gelombang digitalisasi dan serbuan informasi berbasis kecerdasan buatan.
Namun satu hal yang pasti, Jawa Pos harus mampu menjadi representasi suara komunitas.
Sebab, komunitas tetap membutuhkan koran sebagai simbol bisnis media berbasis kawasan. Selamat Milad ke-76 Jawa Pos! (*)
*) Penulis merupakan Koordinator Forum Kajian Ekonomi Perdesaan
Editor : Hengky Ristanto