Jawa Pos Radar Madiun - Bagi sebagian orang, Madiun hanyalah kota kecil di Jawa Timur.
Namun bagi pendukung setia klub lokalnya, kota ini adalah tempat lahir cinta pertama pada sepak bola yang bertahan meski jarang diberi panggung.
Dua klub, PSM Madiun yang menyandang sejarah panjang sebagai pionir sepak bola nasional dan Madiun Putra yang lahir dari semangat generasi baru, menjadi simbol bahwa sepak bola Madiun tak pernah benar-benar mati.
Kenangan Tribun Wilis
Awal 2000-an, Stadion Wilis masih sering menggelar laga besar, meski bukan milik klub lokal.
Pertandingan pertama yang saya saksikan di sana adalah Persekabpas kontra Arema pada 2005, yang berakhir ricuh.
Pengalaman kedua jauh berbeda—Madiun Putra bertanding memperebutkan tiket Divisi Utama akhir 2010-an.
Kami datang berempat naik motor Honda Astrea, berdesakan masuk tribun VIP hanya bermodal dua tiket.
Sorak sorai suporter, dentum drum, bau rumput yang terbawa angin malam, dan harapan besar menguap di udara.
Saat itulah saya melihat Madiun Putra sebagai bagian dari identitas kota, bukan sekadar klub bola.
Dari Harapan ke Ketidakpastian
Kini, suasana itu berganti. Setiap awal musim, suporter bertanya-tanya: apakah Madiun Putra akan bermain? Siapa yang mengelola?
Ketidakjelasan itu diperparah dengan posisi klub di kasta terbawah sepak bola Indonesia, Liga 4.
Tahun 2022, klub ini bahkan dijatuhi sanksi administratif berupa denda Rp25 juta akibat pengunduran diri dari Liga 3 Jawa Timur 2019.
Tanpa komunikasi dari manajemen, masa depan Madiun Putra kala itu nyaris tamat.
#DibayariCahCah: Gerakan dari Tribun
Ketika pengurus klub diam, justru suporter yang bergerak.
Mereka menggalang donasi terbuka lewat media sosial dan jaringan komunitas, mengumpulkan dana selama dua minggu.
Transparan, swadaya, dan dicatat oleh media komunitas Madiun Football, dana itu diserahkan langsung ke Asprov PSSI Jatim untuk melunasi denda.
Gerakan ini mereka namai #DibayariCahCah—dibayari oleh anak-anak sendiri.
Tak ada sambutan dari pengurus, tapi bagi suporter, momen itu adalah bukti rasa memiliki.
Ini bukan sekadar uang, melainkan solidaritas orang-orang yang bahkan tak selalu saling mengenal.
Ancaman Musim Ini
Absennya Madiun Putra di Liga 4 musim lalu menambah kecemasan.
Tanpa kabar resmi, klub berisiko dicoret dari keanggotaan Liga 4—hukuman yang akan menghapus hak tanding sekaligus eksistensi di bawah federasi.
Di Madiun, klub bisa kalah, turun kasta, atau terseok.
Tapi jika dibiarkan mati, yang hilang bukan hanya tim, melainkan juga harapan yang pernah tumbuh di benak masyarakatnya.
Selama masih ada yang menyebut nama PSM dan Madiun Putra dengan bangga, maka selama itu pula sepak bola Madiun akan tetap hidup. (*)
*) Penulis adalah founder Madiun Football
Editor : Hengky Ristanto