Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Keberkahan Harus Diperjuangkan

Redaksi • Kamis, 15 Januari 2026 | 12:00 WIB
Masjidil Aqsa.
Masjidil Aqsa.
Photo
Photo

Oleh:

Ahmad Choirul Rofiq

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo 

UMAT Islam setiap tahun selalu memperingati Isra' dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. pada bulan Rajab, walaupun dalam karya Sirah Nabawiyah Syaikh al-Mubarakfuri berjudul al-Rahiq al-Makhtum disebutkan adanya perbedaan mengenai waktu pasti terjadinya peristiwa agung itu, apakah tahun ke-10 Kenabian atau sesudahnya.

Di Indonesia, tanggal 27 Rajab tahun ini bertepatan dengan hari Jumat, 16 Januari 2026, dan ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia.

Di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang secara rutin dibacakan, diceramahkan, dan bergema di mimbar-mimbar pengajian keislaman dalam peringatan hari besar agama Islam itu adalah Surat al-Isra' [17] ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. al-Isra' [17]: 1)

Ironi Keberkahan di Tengah Belenggu Penjajahan

Ayat tersebut bukan sekadar catatan sejarah perjalanan kilat Nabi Muhammad saw. Ia merupakan deklarasi teologis tentang kesucian dan keberkahan Masjidil Aqsha.

Baca Juga: Upah Buruh Naik, Pemkot Madiun Siapkan Posko Aduan UMK 2026

Namun, rutinitas peringatan ini sering kali terjebak pada narasi nostalgia semata dan kurang menyentuh realitas mengenai kondisi bumi Palestina, tempat Nabi berpijak sebelum naik ke Sidratul Muntaha.

Kita membaca tentang keberkahan di ayat itu, tetapi kita tidak memperhatikan bahwa keberkahan itu kini masih berada dalam cengkeraman penjajahan Israel yang disokong oleh Amerika Serikat secara besar-besaran.

Penyebutan "keberkahan di sekelilingnya" dalam ayat itu menandakan bahwa Masjidil Aqsha adalah episentrum spiritual bagi kawasan Syam.

Oleh karena itu, rutinitas peringatan Isra' Mi’raj seharusnya menjadi momentum untuk menyinergikan kesucian teks dengan tanggung jawab kontekstual umat terhadap tanah tersebut.

Ada ironi yang menyesakkan dada saat kita menyandingkan kata "diberkahi" dalam Al-Qur'an dengan realitas Masjidil Aqsha hari ini. Selama puluhan tahun berlalu semenjak didirikannya negara Israel tahun 1948, tanah yang disebut Tuhan sebagai wilayah yang diberkahi sekelilingnya itu terbelenggu oleh kekejaman penjajahan Israel.

Keberkahan spiritual yang ada di sana tampak sangat kontras dengan penindasan, genosida, pembatasan akses ibadah, dan penghancuran martabat kemanusiaan.

Dukungan militer yang masif dari negara adidaya Amerika Serikat serta penggunaan hak veto yang berulang kali di lembaga internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menciptakan tembok impunitas yang seolah tak tertembus oleh para pembela kemerdekaan Palestina, padahal penjajahan sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Baca Juga: Awas Bancakan, Proyek Impor Energi dari AS Senilai 15 Miliar Dolar Disebut KPK Rawan Korupsi Jumbo

Di satu sisi, kita menyaksikan betapa besar daya tahan (resilience) warga Palestina yang terus bertahan di bawah penderitaan.

Namun di sisi lain, invasi brutal penjajah Israel dan sokongan Amerika Serikat yang selalu menggunakan hak vetonya untuk membela kepentingan Israel di Dewan Keamanan PBB menunjukkan bahwa permasalahan yang dihadapi bukan hanya konflik antara Palestina dan Israel, melainkan struktur ketidakadilan global yang sangat terorganisir.

Reformasi PBB memang sangat mendesak untuk dilakukan supaya tatanan dunia dapat berjalan setara, berkeadilan, dan tanpa ketimpangan.

Hal ini menegaskan bahwa keberkahan religius sedang berhadapan dengan realitas politik kekuasaan yang menuntut respons lebih dari sekadar doa. Di sisi lain, perjuangan membebaskan Palestina menghadapi tantangan serius dari dalam dunia Islam sendiri.

Fragmentasi politik, kepentingan nasional yang saling berbenturan, ketergantungan ekonomi dan teknologi, serta ketakutan terhadap sanksi internasional membuat solidaritas sering berhenti pada retorika.

Pengalaman KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) 2016 di Istanbul menjadi contoh bagaimana konflik internal negara-negara Islam dan tarik-menarik geopolitik justru melemahkan fokus pada kekejian penjajahan Israel.

Di sisi lain, keterlibatan kekuatan besar negara-negara pemilik senjata nuklir memunculkan kekhawatiran akan terjadinya Perang Dunia Ketiga. Negara-negara besar seperti Rusia dan China kadang menggunakan isu Palestina hanya sebagai instrumen diplomasi untuk menyudutkan Amerika Serikat, tanpa benar-benar mengambil tindakan intervensi yang berisiko memicu perang nuklir.

Baca Juga: Kepala SPPG Berpeluang Jadi PPPK, BKPSDM Ngawi Masih Tunggu Aturan Teknis

Selain itu, keterbelahan antara faksi-faksi di Palestina sendiri membuat energi perjuangan habis untuk urusan internal.

Upaya memutus rantai masalah ini memerlukan strategi "perang asimetris" melalui boikot ekonomi, penguasaan opini publik global, dan pengurangan ketergantungan teknologi terhadap pihak-pihak pendukung penjajahan.

Keharusan Meneladani Rasulullah saw., Umar bin al-Khaththab, dan Shalahuddin al-Ayyubi

Sejarah telah memberikan rekaman historis bahwa pembebasan tanah suci tidak datang dari langit begitu saja tanpa pengerahan tenaga dan perjuangan maksimal. Rasulullah saw. mencontohkannya dalam peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Makkah al-Mukarramah) pada 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah (630 Masehi).

Rasulullah saw. membangun kekuatan di Madinah, menghimpun ribuan tentara, mempersatukan suku-suku, dan membuat strategi yang cerdas hingga akhirnya Makkah dapat dibebaskan dari cengkeraman orang-orang kafir Quraisy.

Khalifah Umar bin al-Khaththab pada tahun 638 Masehi kemudian memberikan keteladanan bahwa keberkahan Masjidil Aqsha diraih melalui jihad militer yang dipayungi oleh karakter kepemimpinan Umar dengan penerapan keadilan dan toleransi keagamaan sehingga umat lain menaruh hormat kepada beliau.

Ketika al-Quds (Yerusalem) dikuasai orang-orang Kristen pada 1099, maka Daulah Ayyubiyyah membebaskan kembali Yerusalem pada 1187 di bawah kejeniusan strategi militer dan kesalehan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Baca Juga: Tak Lunasi BPIH, 28 Jemaah Pacitan Gagal Berangkat Haji 2026

Beliau mengajarkan bahwa persatuan umat Islam dan ukhuwah Islamiah merupakan syarat mutlak untuk menggapai kemenangan gemilang. Hal ini menjadi pelajaran krusial bagi umat masa kini, bahwa pembebasan Palestina mustahil terwujud jika negara-negara di sekitarnya masih terfragmentasi secara politik, serta lemah secara ekonomi dan militer.

Pada momentum peringatan Isra dan Mi’raj ini, kita memohon dengan khusyuk kepada Tuhan Yang Maha Perkasa supaya kita dapat melihat Masjidil Aqsha dan tanah Palestina kembali merasakan kedamaian yang hakiki, sebagaimana Masjidil Haram di Makkah.

Sebuah kedamaian ketika setiap orang bisa bersujud kepada Tuhan tanpa rasa ketakutan terhadap penindasan akibat terbelenggu penjajahan Israel.

Keberkahan tanah suci Al-Quds hanya bisa dirasakan secara maksimal ketika hukum Tuhan tentang keadilan mampu ditegakkan dan segala bentuk diskriminasi dihapuskan.

Kita percaya terhadap janji Tuhan dalam Al-Qur'an, Surat al-Anbiya’ [21] ayat 105, bahwa "bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih" akan terwujud. Inilah harapan yang harus kita buktikan dengan perjuangan nyata.

Keberkahan dan kedamaian di Al-Aqsha merupakan keniscayaan yang menunggu kesiapan kita untuk memperjuangkannya. Al-Qur'an juga menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, "kecuali mereka berupaya mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. al-Ra‘d [13]: 11).

Di penghujung ayat pertama Surat al-Isra' di atas ditegaskan bahwa Tuhan mempunyai sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat. Lantunan doa dan ikhtiar hamba-hamba-Nya yang shalih niscaya akan dikabulkan Tuhan ketika perjuangan membebaskan tanah suci itu dilakukan sungguh-sungguh untuk mewujudkan kedamaian dan menggapai keberkahan. (*)

 

Editor : Mizan Ahsani
#muslim #mi'raj #keamanan #isra' #konflik #palestina #islam