Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Ironi di Halaman Sekolah: Siswa Kenyang Makan Gratis, Guru Honorer Masih Lapar Kesejahteraan

Grendy Damara • Jumat, 6 Februari 2026 | 05:40 WIB

Ilustrasi guru memimpin KBM di dalam kelas.
Ilustrasi guru memimpin KBM di dalam kelas.

Jawa Pos Radar Madiun – Di satu halaman sekolah yang sama, di bawah terik matahari pagi yang sama, tersaji dua realitas yang berjalan beriringan namun terasa begitu timpang.

Pemandangan ini kini menjadi lumrah: Seorang guru berdiri dengan pakaian dinas yang warnanya mulai memudar, menyimpan letih setelah mengajar berjam-jam.

Tak jauh dari sana, petugas program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dengan seragam rapi, kendaraan operasional memadai, dan sistem kerja yang tertata apik.

Kedatangan tim MBG disambut sorak sorai riang. Kotak makan dibagikan, senyum siswa merekah. Program pemerintah ini sukses memberi kebahagiaan sederhana: perut kenyang dan energi baru untuk belajar.

Namun, di balik keriuhan itu, ada ironi yang menyayat hati. Ketika siswa kenyang, sang guru masih harus menahan beban hidup yang tak kunjung ringan.

Baca Juga: Pernyataan Menag soal Guru Picu Polemik: Antara Panggilan Mulia dan Realitas Kesejahteraan

Kontras Kecepatan Kebijakan: MBG "Ngebut", Guru "Merayap"

Program Makan Bergizi Gratis lahir dari niat mulia negara untuk memperbaiki gizi generasi penerus. Dampaknya di lapangan nyata dan positif: kehadiran siswa membaik dan konsentrasi belajar meningkat.

Namun, implementasi program ini memunculkan kontras tajam terhadap penanganan nasib guru.

Program MBG: Anggaran besar digulirkan cepat, distribusi diatur rapi, upah petugas relatif jelas.

Kesejahteraan Guru: Masih berkutat dengan janji lama. Guru honorer masih menunggu kepastian status, gaji sering terlambat, dan nominalnya jauh dari kata layak.

Ini bukan soal rasa iri atau menolak program gizi. Ini adalah soal rasa keadilan. Mengapa negara bisa begitu sigap mengurus "perut" siswa, namun begitu lamban mengurus "dapur" gurunya?

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Nostalgia Naik Ontel Bareng Ratusan Guru Lintas Iman

Jangan Normalisasi Penderitaan atas Nama Pengabdian

Selama bertahun-tahun, narasi "pahlawan tanpa tanda jasa" seolah menjadi tameng untuk membiarkan guru hidup dalam kekurangan.

Guru diminta bersabar dengan penghasilan minim.

Bahkan, di wilayah pedesaan, tak sedikit guru yang merogoh kocek pribadi untuk membeli kapur, kertas, atau membantu muridnya, padahal gaji mereka sendiri pas-pasan.

Anak-anak didik mungkin belum paham. Mereka melihat guru tersenyum di depan kelas, tanpa tahu bahwa di balik senyum itu ada kepala keluarga yang pusing mengatur uang belanja agar cukup hingga akhir bulan.

Pendidikan yang berkualitas tidak bisa hanya bertumpu pada pengorbanan sepihak. Pengabdian tidak semestinya dibalas dengan pembiaran.

Baca Juga: Harapan Baru Guru Madrasah Swasta Jadi PPPK, Kemenag Beri Sinyal Hijau

Refleksi: Perut Kenyang dan Hati Tenang Harus Sejalan

Gizi siswa dan kesejahteraan guru bukanlah dua hal yang saling meniadakan (zero-sum game). Keduanya adalah fondasi pendidikan yang saling menguatkan.

Negara yang hebat adalah negara yang mampu melakukan keduanya sekaligus:

  1. Memastikan anak-anaknya makan dengan layak (Gizi terpenuhi).

  2. Menjamin mereka yang mendidik anak-anak itu hidup bermartabat (Sejahtera).

Jangan sampai kelak, ketika siswa-siswa yang kini menikmati makan gratis itu tumbuh dewasa, mereka menyadari satu kebenaran pahit tentang negerinya.

Seperti sebuah pesan menyentuh yang kini bergaung di ruang-ruang diskusi guru:

"Suatu hari nanti, jangan sampai anak-anak itu berkata: Negaraku memberi aku makan, tetapi membiarkan guruku berjuang sendirian."

Sudah saatnya kebijakan pendidikan bergerak seimbang. Karena pendidikan yang adil tidak hanya lahir dari perut siswa yang kenyang, tetapi juga dari hati guru yang tenang tanpa dikejar kecemasan ekonomi. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#Makan Bergizi Gratis #guru #Mbg #pendidikan #kesejahteraan guru