Gaya Hidup Internasional Jatim Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Opini Pacitan Ponorogo

Takbir Bergema di Ambang Perang Dunia

AA Arsyadani • 2026-03-20 17:55:58
Idul Fitri
Idul Fitri
LEBARAN kali ini terasa berbeda. Sulit mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Berita tentang konflik dan ketegangan antarnegara datang setiap hari. Perang yang dulu terasa jauh, seolah hanya hadir di buku sejarah dan layar sinema, kini terasa semakin nyata.

Di tengah situasi global yang kian menghangat, kehidupan sehari-hari tetap berjalan. Menjelang hari raya, pasar ramai sejak pagi. Orang berdesakan memilih baju baru, sandal-sepatu, atau sarung untuk salat Id. Toko kue dan parsel tak pernah sepi. Bau nastar dan kastengel menyeruak sampai ke jalan. Orang menenteng kantong belanjaan dengan ruang gembira. Wajah-wajah lelah namun tetap menyimpan semangat keceriaan. Di tengah kecemasan yang tak selalu terlihat, masyarakat berusaha menjaga tradisi luhur ini.

Meski, di balik keramaian itu tersimpan kegelisahan yang nyata. Banyak orang diam-diam menghitung pengeluaran. Harga kebutuhan pokok terasa makin berat. Uang belanja cepat habis. Tabungan mulai terkuras. Emas, yang selama ini dianggap sebagai pegangan terakhir, kini bergerak tak menentu, naik turun tajam seperti roller coaster. Di sisi lain, pasar saham juga bergejolak, sangat sensitif terhadap kabar dari luar negeri.

Baca Juga: 3 Doa Penting di Akhir Ramadhan yang Dianjurkan Rasulullah, Amalan Menyambut Idul Fitri

Di tengah situasi yang tak menentu, rumah menjadi ruang yang menyelamatkan. Ibu merebus ketupat. Opor dan sambal goreng juga dimasak dalam panci besar. Anak-anak mencoba baju baru yang terkadang masih kepanjangan di bagian lengan atau kaki. Orang tua menunggu kabar mudik dari anak yang merantau. Tradisi di hari fitri ini masih terasa lebih kuat daripada rasa takut.

Ketika di luar sana sebagian negara sibuk memperkuat barusan pertahanan dan menyusun strategi peperangan, di dalam rumah orang-orang hanya menginginkan hal yang sederhana. Berkumpul lengkap dengan seluruh keluarga. Makan dan ngobrol bersama. Mendengar tawa yang jarang terdengar setiap harinya.

Ketika sebagian orang sibuk mengamankan harta dan masa depan, banyak orang lain justru ingin mendekat pada keluarga. Memeluk lebih lama. Duduk lebih dekat. Seolah kita diingatkan bahwa yang paling berharga bukanlah angka di rekening saja, melainkan waktu bersama orang-orang tercinta.

Mungkin disitulah makna lebaran sebenarnya. Tak semata tentang masa berakhirnya puasa, tetapi tentang bertahannya sebuah harapan. Banyak dari kita yang menyempatkan pulang ke kampung halaman.

Baca Juga: 7 Kuliner Nusantara untuk Sajian Idul Fitri: Dari Masakan Santan hingga Kue Tradisional

Sejarah sering mencatat perang dan krisis. Namun kehidupan sehari-hari ditopang oleh hal-hal kecil. Meja makan yang penuh keakraban. Tangan yang saling menggenggam. Permintaan maaf yang diucapkan dengan setulus hati.

Jika suatu hari keadaan benar-benar sulit dikendalikan, mungkin yang akan kita rindukan bukan lagi kemakmuran atau kemenangan. Tetapi setiap saat berharga di hari fitri ini. Ketika suasana rumah masih ramai, tawa masih terdengar renyah, dan orang-orang yang kita sayangi duduk bersama di teras atau di depan televisi.

Selama pintu rumah masih terbuka dan takbir tetap berkumandang, selalu ada alasan untuk percaya bahwa harapan belum sirna. Ia tinggal di rumah-rumah sederhana. Di pelukan hangat orang-orang terdekat. Kebersamaan yang mungkin terlihat biasa, justru terasa bersahaja. (*)

Editor : AA Arsyadani
#lebaran 2026 #Perang Dunia 2 #idul fitri #perang dunia 3