Sekilas, Masjid Nurul Huda di Desa Tanjungpuro, Ngadirojo, Pacitan ini tidak beda jauh dengan masjid pada umumnya. Namun, bagi warga setempat, tempat ibadah ini menyimpan banyak misteri.
-------------------------
SUGENG DWI, Ngadirojo
KESAN kontemporer langsung mengena kala memandang Masjid Nurul Huda. Kombinasi hijau dan putih mewarnai dindingnya. Fondasi beton menambah kesan kukuh kala mengiringi langkah memasuki serambi. Namun, di balik pemandangan tersebut, masjid di Dusun Tanjung, Desa Tanjung Puro, Ngadirojo, Pacitan ini menyimpan kisah yang sulit diterima oleh akal sehat. Kendati dianggap basis penyebaran agama Islam di desa setempat. ‘’Yang ramai berkembang di masyarakat adalah masjid tiban atau tiba-tiba saja ada,’’ kata Suratno, takmir Masjid Nurul Huda.
Konon, Masjid Nurul Huda muncul begitu saja tanpa diketahui siapa yang membangun. Minim bukti sejarah hingga sanggup menguak misteri tersebut. Jejak yang ada sebatas potongan kisah Ki Ageng Bandung sebagai penemu masjid itu kala babad alas di wilayah Ngadirojo 1628 silam. Di dalam masjid, ditemukan surat bertuliskan bahasa Jawa kuno yang berisi tentang sejarah pendirian. ‘’Sunan Geseng muridnya Sunan Kalijaga yang membangun dengan tujuan sebagai tempat syiar dan belajar agama Islam,’’ ujarnya.
Persoalannya, surat kuno yang dimaksud tidak pernah ditemukan. Toh, kalau pun masih ada, tidak ada satu pun yang bisa membacanya. Orang yang sebelumnya disebut-sebut bisa membaca dengan lancar sudah meninggal dunia. ‘’Bagian yang tersisa dari sejarah itu adalah empat buah tiang kayu jati di tengah konstruksi masjid dan bedug setelah direnovasi tiga kali pada 1976, 1982, dan 2016,’’ beber Suratno sembari menyebut wujud masjid ketika ditemukan adalah plafon dan atap dari anyaman bambu dengan lantai dan dinding dari susunan bata merah.
Di loteng masjid terdapat dua buah peti. Satu di antaranya berisi peralatan tatah, serut, siku pengukur serta sejumlah alat bangunan. Sedangkan peti lainnya terkunci dan tidak ada yang berani membukanya. Banyak warga yang percaya di dalamnya adalah buku aksara Jawa kuno yang sebagian warga menganggap sudah hilang. ‘’Warga percaya kalau peti dan buku di dalamnya itu keramat. Selain itu, butuh cara tertentu untuk bisa membukanya,’’ paparnya.
Sejarah Masjid Nurul Huda ternyata mengundang rasa penasaran berbagai kalangan. Banyak warga luar daerah seperti Madiun, Surabaya, Cirebon, hingga Bandung yang beritikaf di masjid. Tidak sedikit sejarawan yang datang melakukan penelitian. ***(cor)
Editor : Administrator