PACITAN – Meski bukan asli kelahiran kota 1001 gua, wafatnya Kristiani Herrawati atau akrab disapa Ani Yudhoyono membawa duka mendalam bagi warga Pacitan. Sosok ramah istri Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menabur banyak kenangan. ’’Bu Ani jadi panutan,’’ ujar Soedjono, kakak sepupu yang mendiami rumah masa kecil SBY di Dusun, Barehan, Ploso, Pacitan ditemui Radar Madiun, Sabtu (1/6).
Menurutnya, Ani sosok perempuan yang ramah dan sopan. Dia mengenal pula ibunda dari
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudoyono (EBY) alias Ibas itu perempuan yang energik. Hampir setiap kegiatan SBY di Pacitan tidak luput dari pendampingan. ’’Setiap ada kegiatan atau perayaan di selalu ikut kemanapun Pak SBY. Tidak pernah ketinggalan, ’’ beber pria pernah menjadi guru SMA SBY itu.
Ani pun disebutnya sosok perempuan yang sederhana. Selama berkunjung di Pacitan, perempuan yang memiliki hobi memotret itu tidak pernah memilih-milih makanan. Menurutnya salah satu makanan favoritnya kala mampir ke Pacitan yakni soto Pasar Minulyo. Soto ala kampung di pasar yang letaknya hanya selemparan batu dari kediaman SBY di Ploso, Pacitan. ’’Kalau temannya yang ikut kesini banyak pesen dulu, ’’ bebernya.
Selama berada di Pacitan, Ani pun selalu menyempatkan diri untuk menengok kamar tidur yang pernah ditempatinya bersama SBY sebelum pindah tugas ke Jogjakarta sekitar 30 tahun lalu. Pesan Ani dan SBY tidak banyak. Keduanya sekadar meminta agar perabotan di kamar dan rumah masa kecil SBY tidak diubah-ubah. Pasalnya rumah tersebut menjadi salah satu kenangan manis yang dimiliki keduanya. Termasuk membesarkan AHY dan Ibas saat masih anak-anak. ’’Jadi setiap kesini, yang dijujuk selalu kamar. Ada yang berubah atau tidak,’’ tambahnya.
Indra Widya Agustina, putra dari Soedjono pun merasakan sosok keibuan dari Ani Yudhoyono. Itu dikenangnya saat Indra berkunjung ke rumah SBY di Bandung. Indra yang berangkat ke rumah Om Sus –sapaan akrab SBY- selalu dijemput oleh Ani dan AHY yang kala itu masih kecil. ’’Selalu bilang, kalau sampai, telepon tante ya. Nanti tante jemput pakai mobil putih pelat nomor 1945,’’ kenangnya.
Keakrabnya dengan Ani pun membuatnya tidak ragu untuk berkeluh kesah tentang berbagai hal. Mulai keluarga, bisnis hingga politik. Bahkan. Ani menjadi jembatannya dengan SBY. Maklum saja, kesibukan SBY mengurusi pemerintahan hingga politik tidak bisa membuatnya dengan mudah mendapat kabar dari pamannya itu. ’’Karena beliau (SBY, Red) tidak selalu memegang handphone,’’ imbuh pengusaha swasta bidang Industri di Jakarta itu.
Dengan meninggalnya Ani tersebut, Indra pun kaget. Bahkan pria yang kini menetap di Jakarta itu menyesal. Pasalnya dia belum sempat menjenguk Ani sebelum tutup usia. Padahal, Indra ingin diberi kesempatan bertemu meski sekali saja. ’’Rencananya memang setelah Lebaran ini baru berangkat ke Singapura, ’’ tuturnya.
Sedangkan adiknya, Indrata Nur Bayu Aji pun memilih kesan yang sama terhadap Ani. Pria yang menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Pacitan ini menganggap perempuan kelahiran Jogjakarta ini sebagai ibu keduanya. Salah satu yang diingatnya, dia selalu diwanti-wanti untuk selalu menjadi politikus yang memiliki idealisme. ’’Tidak harus selalu mengikuti arus. Intinya kita harus menjadi diri kita juga dan menjaga idealisme,’’ imbuh pria yang berangkat ke dunia politik bersama dengan Ibas itu.
Menurutnya kabar meninggalnya Ani Yudhoyono diketahui melalui pesan WhatsApp salah satu kerabat di Jakarta beberapa waktu sebelum digelarnya konferensi pers di televisi. Dengan kabar tersebut, keluarganya pun shock. Mereka berencana untuk hadir dalam pemakaman Ani Yudhoyono. Aji hanya bertiga bersama dua kakaknya, Indra dan Indratma Wisno Pribadi. Sementara, Soedjono ditinggal. ‘’ Bapak (Soedjono, Red) tidak diajak karena sudah sepuh, ’’ bebernya.
Selain itu, duka mendalam juga dirasakan Bupati Pacitan Indartato. Dia pun berdoa agar Ani Yudhoyono mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Pun agar keluarga, termasuk SBY diberikan kekuatan dan ketabahan. Dengan kejadian tersebut, pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Pacitan itu pun berencana untuk melayat ke Cikeas. Sementara di rumah Indartato di Kelurahan Bangunsari juga digelar tahlil diikuti puluhan warga Pacitan. ’’Kami menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Ibu Ani. Semoga diberikan yang terbaik oleh Allah,’’ tuturnya. (odi/ota)
Editor : Administrator