PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Ada gereja kapal di Pacitan. Bangunannya menjulang indah dengan arsitektur tak biasa. Bak sebuah kapal, bangunan raksasa itu menjulang lancip di sisi depan dan belakang. Dilingkari ornamen laut dan kolam kecil di sepenjuru bangunannya.
Pastor Gereja Katolik ST Fransiskus Xaferius Pacitan Romo Sabas Kusnugroho mengatakan, renovasi gereja ini berlangsung setahun dengan ditopang dana nyaris Rp 5 miliar. Arsiteknya seorang mahasiswa dari universitas Katolik di Surabaya. ‘’Desainnya memadukan nuansa keagamaan dan kearifan lokal,’’ ujarnya, Sabtu (25/12).
Sedikitnya 40 jenis batu digunakan dalam pembangunan gereja. Diambilkan dari 12 kecamatan di Pacitan. Lantai gereja menggunakan batuan andesit terbaik dari Kecamatan Nawangan. Batuan lainnya seperti marmer, jasper, fispar, hingga karang digunakan untuk menyusun struktur serta ornamen gereja. ‘’Seperti dinding belakang altar, kami susun dari 10 jenis batu. Melambangkan 10 perintah Allah lewat Nabi Musa,’’ jelas Romo Sabas.
Tak hanya dasar bangunan yang unik, bentuk gereja memiliki filosofi mendalam. Selain unsur kapal, model bangunan utama berbentuk pentagonal asimetris. Berbentuk segi enam tak sama sisi. Melambangkan ketidaksempurnaan dan keragaman hidup manusia. Pun membentuk huruf M yang menyimbolkan Bunda Maria sebagai pelindung gereja. ‘’Atap utama juga disusun dari lima tangkap yang melambangkan Pancasila,’’ paparnya.
Gereja kapal ini juga menjadi rujukan wisata religi di Pacitan. Masyarakat umum, termasuk dari pemeluk agama lain, diperbolehkan menyambanginya. Beberapa jenis batu dipajang di halaman gereja layaknya galeri museum. ‘’Kami menjunjung tinggi toleransi umat beragama di Pacitan. Bangunan ini juga dibangun bersama warga lain, termasuk muslim,’’ ungkapnya. (gen/c1/fin/her)
Editor : Hengky Ristanto