PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Porang masih menjadi primadona di Pacitan. Para petani mulai melirik tanaman umbi-umbian itu menjadi andalan selain komoditas pangan pokok. Beberapa hektare lahan mulai disulap untuk mencukupi permintaan pasar.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan Gatut Winarso mengatakan bahwa potensi porang tak bisa disepelekan. Selain menguntungkan, tanaman ini tak membutuhkan perawatan istimewa. Tak kurang dari 3.117 hektare lahan telah ditanami porang. ‘’Animo petani cukup tinggi. Luas lahan porang di kabupaten ini lima teratas se-Jatim,’’ ungkapnya, Senin (24/1/2022).
Secara geografis, Pacitan memiliki hutan rakyat yang cukup luas. Pun, sesuai uji laboratorium, porang cocok ditanam di bawah pohon tegakan. Baik jati, sengon, maupun pepohonan lainnya. Sebab, kandungan glukomanan alias serat larut porang tercatat 25 persen, selisih 20 persen lebih tinggi ketimbang porang yang ditanam di lahan datar dan terbuka. ‘’Kalau ditanam di lahan terbuka justru nggak bagus. Kandungan glukomanannya rendah, hanya lima persen,’’ ujarnya.
Gatut mendorong para petani porang segera meregistrasi lahan tanamannya. Menimbang belakangan banyak eksportir yang mewajibkan pendataan via internet. Guna memudahkan penjualan dan memastikan kualitasnya jempolan. Sebab, porang yang diekspor ke luar negeri haruslah minim kandungan kimia dan pestisida. ‘’Sekarang baru sekitar lima hektare yang telah terdaftar. Kami akan bantu registrasinya agar porang semakin mudah dijual,’’ terangnya.
Gatut memastikan pangsa pasar porang tinggi. Selain luas pangsa ekspornya, juga menjadi program unggulan Kementerian Pertanian. Ribuan ton tersuplai setiap tahunnya. ‘’Kami terus dorong peningkatan produksi, karena porang itu mudah ditanam dan tidak memerlukan lahan khusus,’’ tuturnya. (gen/c1/fin)
Editor : Hengky Ristanto