PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Tawuran antarkubu ronda tek-tek (rontek) gugah sahur terjadi di perbatasan Desa Arjowinangun dan Sirnoboyo, Pacitan, kemarin (6/4). Dua kelompok remaja diduga saling lempar kentongan bambu di timur Pasar Arjowinangun. Video tawuran sempat viral di media sosial.
Wibisono mengatakan, aksi tawuran seperti itu nyaris terjadi setiap Ramadan. Biasanya terjadi saat dua kelompok remaja berpapasan. ‘’Ramadan ini baru sekali ini. Tahun-tahun sebelumnya juga terjadi, tapi tahun lalu tidak ada,’’ ujar warga Sirnoboyo itu, Kamis (7/4).
Keributan di waktu sahur tersebut tentu mengganggu ketenteraman. Selain membahayakan, tak jarang fasilitas di seputaran lokasi ikut rusak. Batu dan sisa kentongan berserakan di jalan. ‘’Kemarin pagi banyak sisa bambunya. Ini jelas meresahkan karena tujuan awalnya membangunkan sahur,’’ tuturnya.
Samijan, warga yang membuka bengkel di perbatasan antardesa, itu membenarkan bahwa tawuran terkadang masih terjadi. Bahkan, papan nama yang dipasang di depan kiosnya ikut rusak diduga imbas keributan tersebut. ‘’Tadi pagi baru disapu, bedeng sekitar sini juga rusak,’’ ungkapnya.
Samijan berharap rontek benar-benar dimanfaatkan untuk menggiatkan tradisi gugah sahur. Tak disalahgunakan menjadi aksi yang menuai keributan. Dia pun berharap petugas keamanan sudi patroli rutin guna mencegah kondisi serupa terulang. ‘’Kalau ronteknya sebenarnya membantu, tapi kalau sampai ada tawurannya itu meresahkan,’’ ujarnya.
Awal Ramadan, pemkab telah menerbitkan surat edaran (SE) yang melarang rontek. Selain dipandang berpotensi menimbulkan kericuhan, juga mengantisipasi penularan Covid-19. Sahur on the road (SOTR) juga tak diperbolehkan. Warga diimbau bersantap sahur di rumah masing-masing. Serupa kebiasaan selama pandemi dua tahun belakangan. ‘’Merujuk kejadian tahun-tahun lalu yang sering disalahgunakan jadi ajang tawuran,’’ kata Kasatpol PP Pacitan Sanyoto. (gen/c1/fin/her)
Editor : Hengky Ristanto