PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kamis Pon kemarin (7/4) menjadi hari teristimewa bagi Susanto. Oemar Bakrie-nya Pacitan itu ikut mengantre giliran menerima SK PPPK di Gedung Karya Dharma.
Buah manis pengabdian itu akhirnya dapat dipetik setelah 16 tahun menjadi guru honorer di SDN Pelem 3, Pringkuku. Tanpa kebulatan tekad mengabdi sepenuh hati, tidak ringan kiranya menjadi pendidik sejak belasan tahun silam. ‘’Lega dan bahagia, pengabdian saya tidak sia-sia,’’ ucap Susanto.
Susanto ingin pengabdiannya menginspirasi para guru muda. Bahwa niat utama dari mengajar adalah memenuhi panggilan jiwa. Susanto sampai kini terus menjaga mimpi agar generasi penerus bangsa dari kampung halamannya tetap mendapatkan pendidikan secara layak. ''Desa saya jauh dari kota dan dari akses fasilitas lain,'' ungkapnya.
Menahun berstatus honorer tak mengecilkan hati Susanto. Gaji di bawah upah minimum regional (UMR) disiasatinya dengan menjadi petani. Ketekunan itu terbukti dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga. Pun, kedua anaknya telah menempuh pendidikan hingga sarjana. ''Menjadi guru itu mulia. Bahkan, ada anak didik saya sekarang sudah sukses, mungkin jadi PNS,’’ ujarnya.
Susanto sempat tebersit ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun, dia sadar diri tak lagi muda. Usianya kini 54 tahun. Karenanya, kabar rekrutmen PPPK setahun lalu dianggapnya bak durian runtuh. Itu kembali memunculkan semangatnya meski sempat kesulitan saat mengikuti ujian. ‘’SK ini sangat berarti, walaupun tujuh tahun lagi sudah pensiun,’’ pungkasnya. (gen/c1/fin)
Editor : Hengky Ristanto