PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Reog punya kelas dan pantas mendapatkan apresiasi internasional. Ditilik dari sisi artistik, kesenian adiluhung Ponorogo itu tak perlu diragukan. Reog juga terbukti mampu membangkitkan gerakan kebudayaan yang masif.
Di saat polemik reog kembali mencuat, para seniman di berbagai daerah spontan menunjukkan empatinya. Tak terkecuali di Pacitan, kabupaten yang bersebelahan dengan Ponorogo.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji mengapresiasi aksi solidaritas seniman reog di halaman pendapa. Itu menandakan tingginya rasa kecintaan terhadap kesenian adiluhung warisan leluhur Nusantara. Uri-uri budaya menjadi tonggak bangkitnya kesenian lokal pascavakum dibekap pandemi korona dua tahun belakangan. ‘’Malam ini kita berdoa agar reog Ponorogo tetap menjadi milik bangsa Indonesia,” seru bupati lantang di sela pentas massal seni reog di halaman pendapa.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Pacitan Turmudi memandang reog punya kekayaan unsur yang kompleks. Karenanya, hampir seluruh desa di kabupaten ini memiliki paguyuban reyog. ‘’Kalau dijumlah, mungkin hampir seratusan paguyuban,’’ ungkapnya, Jumat (15/4).
Disbudparpora Pacitan bakal mengintensifkan pendataan serta verifikasi keseniaan. Minimal memasukkan budaya dan tradisi daerah dalam warisan budaya tak benda (WBTB). Sebagaimana badut sinampurno dari Tegalombo, tetaken dari Mantren, Kebonagung, serta brojogeni dari Tremas, Arjosari. Menyusul kethek ogleng, ceprotan, dan wayang beber yang telah lebih dulu terverifikasi. ‘’Saat ini sudah ada enam kesenian yang masuk WBTB,’’ tandasnya. (gen/c1/fin/her)
Editor : Hengky Ristanto