PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah daerah membuat sebagian peternak Pacitan takut berlebihan. Sebanyak 21 warga melaporkan sapinya mengalami gejala klinis terjangkit virus dari genus Apthovirus itu ke dinas ketahanan pangan dan peternakan (DKPP).
Belakangan, kekhawatiran puluhan peternak hanya paranoid. Sebab, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara tim dokter hewan setempat, sapi yang dicurigai terjangkit foot and mouth disease itu hanya satu ekor. ‘’Laporan dari 20 warga tidak terbukti terjangkit,’’ kata Kabid Kesehatan Hewan DKPP Pacitan Joko Rianto, Rabu (1/6).
Joko mengungkapkan, satu ekor sapi suspek PMK berasal dari wilayah Kecamatan Donorojo. Pihaknya mengirimkan sampel liurnya ke Balai Besar Veteriner, Wates, Jogjakarta, pekan lalu. Langkah tersebut mempertimbangkan peternaknya sempat membawa sapi ke Wonogiri, Jawa Tengah, untuk dijual. ‘’Kami tidak ingin ambil risiko,’’ ujarnya.
DKPP masih menunggu hasil uji sampel yang diperkirakan keluar pekan ini. Perangkat daerah itu meyakini tidak terjangkit PMK. ‘’Karena dari pengamatan luar tidak terindikasi gejala klinis lanjutan penularan,’’ ucapnya.
Joko menjelaskan, laporan warga tersebar di sejumlah kecamatan. Pemberitahuan tersebut masuk tidak lama setelah layanan pengaduan pencegahan PMK dibuka. Pihaknya mengklaim pengawasan PMK terus dilakukan. Sebanyak 13 dokter hewan, 20 mantri, dan 14 petugas inseminasi buatan diterjunkan ke wilayah potensi terjangkit. ‘’Kami meminta peternak membatasi mobilitas hewan ternak antardaerah,’’ pungkasnya. (gen/c1/cor)
Editor : Hengky Ristanto