PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Beragam alat pertanian hingga kentongan ditabuh ratusan warga di persawahan Desa Sukoharjo, Pacitan. Bebunyian nyaring itu saling bersahut mengiringi arak-arakan thetek melek kemarin sore (30/8).
Kepala Desa Sukoharjo Muhammmad Anam mengatakan, tradisi ini digiatkan untuk merespons kegelisahan masyarakat menghadapi beragam pagebluk yang terjadi belakangan. Mulai Covid-19, penyakit mulut dan kuku (PMK), hingga serangan hama pertanian. ‘’Kami berharap dengan ini bisa mengusir pagebluk. Baik yang menjangkit warga, tanaman, maupun hewan,’’ ujarnya sembari menyebut hasil panen sebelumnya kurang memuaskan karena banyak hama yang menyerang.
Pegiat budaya setempat Amin Sastropawiro menambahkan, thetek melek sendiri merupakan cara warga desa mengusir segala mara bahaya. Berawal ratusan tahun silam, saat itu salah seorang sesepuh desa setempat mendapati kawasannya dilanda pagebluk pertanian.
Seakan mendapat pencerahan, konon tokoh setempat itu berjalan mengelilingi desa sambil diikuti masyarakat setempat dan membunyikan aneka bunyi-bunyian. ‘’Dari sanalah tradisi thetek melek tercipta dan dilakukan setiap ada pagebluk melanda,’’ paparnya.
Amin berharap kegiatan budaya ini mampu membangkitkan kembali tradisi di Sukoharjo. Tak hanya nguri-uri budaya, juga dijadikan ikon desa setempat. ‘’Sekaligus kami ingin kembali berkumpul dengan masyarakat, syukuran, karena pandemi kemarin kita sulit berkumpul,’’ terangnya. (gen/c1/fin)
Editor : Hengky Ristanto