PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Hujan yang mengguyur beberapa hari belakangan bukan jaminan ketersediaan air melimpah. Sejumlah kawasan di kabupaten ini masih dihantui krisis air bersih. Seperti yang terjadi di Desa Tambakrejo, Pacitan, yang telah mengajukan dropping air bersih ke badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat.
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko mengatakan, pengajuan dropping air bersih itu diterima OPD-nya beberapa waktu lalu. Intensitas hujan yang tak merata membuat ratusan warga di desa itu kekurangan air bersih. Sampai harus mengais sumber air alternatif lantaran sumur-sumur yang ada telah mengering. ‘’Baru satu desa itu yang mengajukan, itu wilayahnya di atas bukit. Lainnya masih aman,’’ ujar Erwin, Selasa (6/9).
Saat ini BPBD tengah menginventarisasi zona merah kekeringan. Saban camat diminta lekas melaporkan potensi kekeringan di wilayahnya masing-masing. Agar ketika sewaktu-waktu butuh dropping air bersih tak menanti terlalu lama. Sebab, anggarannya bersumber dari belanja tidak terduga (BTT) yang pencairannya butuh waktu. ‘’Saat ini kami belum bisa merinci zona merah kekeringan itu di mana saja karena masih menanti laporan dari kecamatan. Data setiap tahun berubah seiring penanganannya,’’ ungkap mantan camat Tegalombo tersebut.
Erwin memprediksi potensi kekeringan tahun ini tak separah periode-periode silam. Seiring bertambahnya sumber air yang telah dibangun pemerintah. Sementara, hujan dengan intensitas sedang terus mengguyur sebagian wilayah. Itu tak lepas dari dampak badai La Nina yang diperkirakan berlangsung hingga akhir bulan. ‘’Beberapa hari ini kawasan kota dan sekitarnya masih diguyur hujan, walau tidak deras,’’ tuturnya. (gen/c1/fin)
Editor : Hengky Ristanto