Selain intensitas hujan tinggi, kiriman air dari Jawa Tengah (Jateng) menjadi salah satu penyebab banjir. Banjir sore itu merupakan yang terparah sepanjang tahun ini di Arjosari.
Sejumlah wilayah tak lepas dari genangan air. Mulai Desa Arjosari, Tremas, Sedayu, Mlati, Gayuhan, Gembong dan Karangrejo. Sementara di Desa Gegeran terdampak banjir lumpur.
Di Sedayu misalnya, air menggenangi beberapa rumah warga hingga setinggi pinggang orang dewasa. Wilayah Gayuhan juga tidak lepas dari banjir. Air sungai meluap dan menggenangi jalan. Bahkan, air masuk ke sejumlah rumah penduduk.
Di Tremas, air juga merendam 60 rumah warga dengan ketinggian 30 sentimeter. Tersebar di Dusun Krajan, Tanjung, Karangasem, dan Pageran. Selain itu, akses menuju ke Pondok Tremas tertutup air.
Ketinggiannya sekitar 40–60 sentimeter. ‘’Ada beberapa warga yang mengungsi karena kondisi (debit) air masuk zona merah atau berbahaya,’’ ungkap Kepala Desa (Kades) Nurhadi.
Sebagai tindak lanjut, pihak pemerintah desa (pemdes) mengerahkan beberapa perangkatnya untuk membantu warga. Seperti penyediaan sarana kesehatan dan dapur umur sambil menunggu air surut.
Sementara itu, luapan Sungai Grindulu juga mengakibatkan Jembatan Desa Mlati putus. Dampaknya sekitar 97 kepala keluarga (KK) di Dusun Ketarjo dan Duwun terisolir.
‘’Jembatan ini juga baru selesai diperbaiki awal 2022 karena banjir. Dan, sekarang sudah putus lagi,’’ kata Sekdes Mlati Imam Busro.
Selain banjir, beberapa desa di Arjosari juga terdampak longsor. Di antaranya di Desa Kedungbendo dan Temon. Di Desa Temon, longsor menutup total akses Jalan Arjosari–Nawangan. Sedangkan di Kedungbendo, material longsor menutup badan Jalan Pacitan–Ponorogo. (gen/her) Editor : Hengky Ristanto