Takmir Majid Tiban Nurul Huda, Muhyidin mengatakan sejarah berdirinya masjid Tiban Nurul Huda simpang siur. Tak ada catatan resmi pun sejarawan yang tahu kapan dibangun. Tersisa cerita dari mulut ke mulut. Konon masjid dibangun ulama asal Kerajaan Mataram, Sunan Geseng saat babat alas Kecamatan Ngadirojo.
Ditempatkan di antara rawa-rawa, masjid tersebut sempat tak ditempati hingga ditemukan kembali Ki Ageng Bandung puluhan tahun berikutnya. ’’Ki Ageng Bandung waktu itu mendengar suara burung perkutut. Beliau berusaha menghampiri, ternyata perkututnya berada di atas atap bangunan yang sekarang jadi masjid tiban ini,’’ ujarnya.
Dia menambahkan, beberapa kali renovasi dilakukan masyarakat. Meski dipugar, namun sejumlah ciri khas masjid kuno tetap ditinggalkan. Utamanya, di tengah ruangan masjid yakni berdirinya empat tiang berukuran 2x2, dengan kayu jati sebagai atap. Tiang bekas tatahan kasar bercat cokelat tersebut, mencerminkan keaslian sejarah serta usia bangunan masjid.
’’Uniknya walaupun kayu ini sudah ada berabad-abad tapi kayunya masih utuh dan tidak dimakan rayap,’’ jelasnya.
Berada di tengah permukiman padat, Masjid Tiban Nurul Huda tak pernah sepi kegiatan keagamaan. Ruang utama selalu dipenuhi jamaah salat 5 waktu. Termasuk kegiatan salat Jumat dan salat Tarawih saat Ramadan ini. Bahkan tak sedikit peziarah yang datang dari luar kota. ’’Biasanya di bulan Syaban, banyak yang datang ke sini,’’ pungkasnya. (gen/ota) Editor : Hengky Ristanto