Pendar cahaya kemerahan menerobos gelap. Ribuan titik api itu mencipta bias terang di antara pekat halimun. Riuh senandung puja-puji membuat malam sempurna di puncak ketinggian.
----------
BALAI Desa Jeruk, Bandar, sepi dan gelap pada malam hari. Itu sudah biasa. Tapi, berbeda dengan Senin malam (3/7) lalu. Halaman balai desa itu menjadi lautan manusia dan terang benderang. Ratusan warga berpakaian serbahitam mengikuti pawai untuk memeriahkan event bertajuk Jeruk Obor Festival (JBOR) 2023.
Para peserta pawai tampil kreatif. Mereka menyuguhkan 1.001 obor diiringi reog, rontek, karawitan dan kenduri tumpeng. Setiap gerakan dan nyanyian bermakna syukur akan kekayaan alam. Pun, tarian menyimbolkan kebersamaan atau gotong royong. ‘’Ini wujud syukur atas berkah dari Yang Maha Kuasa,’’ kata Kades Jeruk Haris Kiswanto.
Meski kali pertama digelar, festival ini mampu mendatangkan antusiasme warga sekitar. Pun, dianggap sebagai momentum mempererat silaturahim melalui kesenian. ‘’Karena baru pertama mungkin masih banyak kekurangan. Terima kasih atas partisipasi luar biasa dari seluruh warga,’’ ucapnya.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji turut larut dalam pesta rakyat tersebut. Apresiasi pun diberikan dan berharap rutin digelar saban tahun. ‘’Saya memaknai kegiatan ini intinya adalah rasa senang atau cinta dan wujud syukur kita dengan apa yang kita dapat,’’ kata Mas Aji, sapaan akrbanya.
JBOR 2023 berlangsung tiga hari, 3 sampai 5 Juli. Beragam acara ditampilkan di panggung festival. Sejumlah seniman dari berbagai sanggar seni baik lokal maupun luar daerah turut hadir memeriahkan festival ini. Di antaranya dari Jawa Tengah. Seperti Magelang, Surakarta, dan Wonogiri. Workshop pemberdayaan kaum ibu, jagong tani dan lokakarya kerajinan juga digelar dalam festival ini. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani