PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Malam itu, di halaman Pondok Pesantren (Ponpes) Nahdlatussubban, Arjowinangun, Pacitan, para santri mengenakan pakaian lengkap. Bersarung dan berkopyah hitam, para santri Pacitan itu berebut bola yang diselimuti bara api, juga menggiring dan menendang bola.
Silih berganti memborbardir pertahanan lawan. Bola pun disepak menembus gawang dengan kaki telanjang. Itulah atraksi braja geni atau lebih populer dengan sebutan sepak bola api menyambut tahun baru Islam, 1 Muharam 1445 Hijriah, pada Selasa (18/7) malam lalu.
Pengasuh Ponpes Nahdlatussubban Kiai Agung Wibowo mengatakan, tradisi ini sempat vakum dua tahun karena pandemi Covid-19. Pun, digelar kembali mulai 2022 lalu. Braja geni merupakan olahraga atraktif yang memacu adrenalin. Pasalnya dibutuhkan nyali untuk bertanding.
Tidak seperti sepak bola umumnya, bola yang digunakan buah kelapa tua yang sudah direndam minyak tanah selama beberapa hari. Sehingga, ketika disulut api terus menyala saat berlangsungnya pertandingan. ‘’Sebelumnya santri melaksanakan istighotsah dan doa bersama untuk keselamatan,’’ katanya.
Tradisi braja geni melibatkan hampir semua santri putra ponpes setempat. Mereka dibagi dalam tim kecil berisi enam orang. ‘’Untuk menyemarakkan tahun baru Islam 1445 Hijriah, ini menjadi acara rutinan satu tahun sekali pada setiap malam 1 Muharam,’’ ujarnya.
Momen ini juga sebagai refreshing mengatasi kejenuhan menjalani rutinitas di ponpes. Kiai Agung mengatakan dalam menyambut tahun baru Islam, para santri selalu mengadakan beragam kegiatan. Mulai khotmil Quran sejak pagi hari, istighotsah dan doa bersama, memasak hingga makan bersama. ‘’Tentu saja ada pertandingan braja geni,’’ pungkasnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani