PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Harga sejumlah bahan pokok penting (bapokting) cenderung naik. Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Bahan Pokok, itu terjadi dalam sepekan terakhir. Bapokting yang naik harga antara lain beras, telur, ayam potong dan daging sapi.
Di pasaran, harga beras naik cukup signifikan. Termahal satu sak (25 kilogram) Rp 340 ribu. Paling murah Rp 280 ribu per sak (25 kilogram). Sedangkan kemasan lima kilogram Rp 70 ribu hingga Rp 72 ribu. ‘’Harga beras naik Rp 1.000 per kilogram,’’ kata Sumiati, salah seorang pedagang di Pasar Minulyo kemarin (26/8).
Yuni Astuti, pedagang di Pasar Arjowinangun, menambahkan sepekan terakhir semua jenis beras naik harga Rp 600 sampai Rp 1.000 per kilogram. Stok beras dia peroleh dari supplier luar daerah, dengan harga Rp14 ribu per kilogram. ‘’Harga beras naik-turun dalam dua pekan ini,’’ ujarnya.
Selain beras, harga cabai rawit dan cabai merah besar juga naik signifikan. Yakni, tembus Rp 40 ribu dari semula Rp 30 ribu per kilogram. Cabai merah besar naik Rp 8 ribu menjadi Rp 38 ribu dari semula Rp 30 ribu per kilogram.
eBaca Juga: Antisipasi Potensi Kekeringan Terdampak El Nino, Bulog Siapkan 140 Ton Beras untuk Magetan
Kenaikan harga komoditas pangan diperkirakan masih akan berlanjut. Mengingat puncak El Nino akan berlangsung hingga September nanti. Sebab, dampak El Nino selain memengaruhi cuaca juga berpengaruh pada produksi pertanian secara keseluruhan.
Terlebih, akibat kemarau panjang yang membuat ketersediaan air untuk pertanian menyusut drastis. ‘’Imbasnya banyak petani yang gagal panen karena kekurangan air. Begitu pula faktor cuaca ekstrem saat ini,’’ kata Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Radite Suryo Anggoro.
Pihaknya memprediksi puncak kemarau terjadi pada September nanti. Itu sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, bahwa kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan tiga tahun terakhir.
Terlebih, ada potensi El Nino atau fenomena pemanasan suhu muka laut hingga 60 persen. Sedangkan saat ini intensitas La Nina terus melemah. ‘’Hal itu terlihat dari indeks El-Nino Southern Oscillation (ENSO) sejak 10 hari pertama Januari 2023 lalu,’’ sebutnya
El Nino dan La Nina merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. Ketika El Nino berlangsung, musim kemarau sangat kering serta permulaan musim hujan terlambat. Sedangkan ketika La Nina, musim penghujan tiba lebih awal. ‘’Fenomena ini terjadi hampir setiap tahun. Masyarakat harus lebih waspada,’’ imbaunya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani