PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Gerakannya lincah. Diiringi gamelan Jawa rancak, penari cilik itu meliuk-liuk, berjingkrak, dan sesekali jungkir balik. Berbalut pakaian serbaputih ala tokoh pewayangan Hanuman, penari itu seakan menjelma menjadi seekor kera.
Begitulah secuil Tari Kethek Ogleng, tarian asli Pacitan yang ditampilkan dalam Festival Kethek Ogleng 2023 tingkat pelajar SD/MI yang dihelat Balai Besar Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Menurut Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Endah Budi Heryani, festival ini sebagai upaya untuk menjaga dan memperkenalkan warisan budaya tak benda kepada generasi muda serta masyarakat luas. ‘’Untuk melakukan pewarisan teknik dan keterampilan Tari Kethek Ogleng pada generasi muda,’’ katanya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) pada Sabtu (26/8) dan Minggu (27/8) di Alun-alun Pacitan. Melalui festival ini, dia berharap Tari Kethek Ogleng tetap lestari dan terus menjadi kebanggaan masyarakat Pacitan.
Pun, menarik minat dan apresiasi dari wisatawan dan pengunjung luar daerah. ‘’Mendorong partisipasi masyarakat luas untuk mengekspresikan, mengembangkan dan memanfaatkan Tari Kethek Ogleng yang ada di Pacitan,’’ sambungnya.
Festival ini untuk mencari tiga penyaji terbaik nonranking, juga tiga tata rias dan busana terbaik nonranking. Penilaiannya meliputi kepenarian, identitas, penyajian dan kreativitas. ‘’Diikuti siswa SD/MI, putra-putri, campuran se-Kabupaten Pacitan,’’ sebutnya.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menambahkan, festival ini sebagai upaya untuk menjaga dan memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda serta masyarakat luas. ‘’Tetap lestari Tari Kethek Ogleng. Masyarakat Pacitan Bangga,’’ seru Mas Aji, sapaan bupati.
Tari Kethek Ogleng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI 2019 lalu. Tari yang diciptakan seniman asli Pacitan Sutiman pada 1962 ini terinspirasi dari perilaku kethek (kera) di hutan sekitar rumahnya. Tari Kethek Ogleng menjadi kesenian asli Pacitan sekaligus ikon budaya kabupaten berjuluk Paradise of Java ini. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani