PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Para petani kelapa di Pacitan galau. Hasil panen yang diharapkan bisa untuk menebus harga bahan pokok penting (bapokting) yang melambung, tinggal harapan.
Sebab, harga buah kelapa terjun bebas hingga 60 persen. Saat ini produk lokal Pacitan itu hanya dihargai rata-rata Rp 2.000 per butir.
Juwarno, salah seorang petani kelapa di Desa/Kecamatan Kebonagung, membenarkan jatuhnya harga buah kelapa.
Bahkan, menurut dia, di beberapa wilayah seperti Kecamatan Tulakan, yang menjadi sentra penghasil kelapa, harganya sangat rendah. Yakni, Rp 1.500 per butir.
‘’Bulan lalu sempat Rp 5.000 per butir,’’ katanya kemarin (15/10).
Selain harga terpuruk, permasalahan lain juga dihadapi pekebun dan petani kelapa. Yakni, terus menurunnya produktivitas buah kelapa dan mahalnya ongkos petik.
Satu pohon, lanjut dia, maksimal hanya menghasilkan rata-rata 10 butir. ‘’Sehingga, tidak sebanding dengan kondisi harga yang sangat murah,’’ ujarnya.
Petani terpaksa menjual murah kelapa yang telanjur dipanen meski keuntungan tidak sebanding dengan biaya produksinya.
Menurut petani berusia 50 tahun ini, anjloknya harga kelapa telah berlangsung sejak tiga tahun terakhir. ‘’Padahal di luar daerah bisa Rp 15 ribu per butir,’’ ungkapnya.
Juliana, pedagang kelapa di Pasar Bangsri, Pacitan, juga tidak berani jual mahal. Sebutir kelapa diecer Rp 2.300.
Dengan margin setipis itu, pengepul atau tengkulak kelapa hanya menerima keuntungan sekitar Rp 300 per butir. ‘’Permintaan dari luar daerah juga tidak setiap hari ada,’’ ungkapnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani