Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Dampak Anjloknya Harga Porang, Petani Pacitan Terlilit Utang

Mizan Ahsani • Rabu, 18 Oktober 2023 | 04:00 WIB
MEMPRIHATINKAN: Seorang petani porang di Kebonagung, Pacitan, merawat tanamannya, Senin (16/10). (NUR CAHYONO/RADAR PACITAN)
MEMPRIHATINKAN: Seorang petani porang di Kebonagung, Pacitan, merawat tanamannya, Senin (16/10). (NUR CAHYONO/RADAR PACITAN)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Sempat jadi primadona komoditas petanian beberapa tahun lalu. Kini, tanaman porang justru membuat petani meradang.

Sebab saban bulan, harga porang yang notabene merupakan jenis umbi-umbian itu terus merosot.

‘’Sekarang harganya tinggal Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kilogram,’’ kata Samsudin, petani porang di Desa Sanggrahan, Kebonagung, Pacitan, Senin (16/10).

Menurut anggota Asosiasi Petani Porang (ASP) Pacitan ini, fluktuasi harga porang terjadi sejak 2019 hingga sekarang. Trennya terus anjlok seiring melimpahnya komoditas tersebut di pasaran.

Keberadaan pabrik pengolahan porang di Madiun dinilai membuat komunitas ini semakin terpuruk. ‘’Dulu sempat Rp 14 ribu per kilogram,’’ kenangnya.

Kondisi ini membuat semangat petani porang di desanya meredup. Apalagi ekspor porang sempat terhenti akibat Covid-19.

Tiongkok memang kembali membuka keran impor. Namun, Negeri Tirai Bambu ini mengajukan syarat baru kepada eksportir porang di Indonesia.

Yakni, porang harus dari petani yang sudah bersertifikasi. ‘’Syaratnya ribet harganya murah,’’ keluhnya.

Keberadaan pabrik pengolahan porang di Madiun, lanjut dia, juga tidak membantu nasib petani. Pasalnya pabrik yang diresmikan Presiden Joko Widodo ini juga membeli dengan harga murah.

‘’Akhirnya kami jual ke Pasuruan. Konsekuensinya ongkos kirim lebih mahal,’’ ungkap bapak dua anak ini.

Petani berharap pemerintah mencarikan solusi. Sebab, dia merugi puluhan juta rupiah. Dulu, porang digembor-gemborkan pemerintah dengan narasi memberi keuntungan petani.

Namun, saat panen, tidak sesuai harapan. ‘’Sekarang tidak hanya turun, tapi bisa dikatakan tidak ada harganya lagi,’’ kesalnya.

Yang lebih miris, sebut dia, banyak petani porang terlilit kredit usaha rakyat (KUR). Mereka meminjam puluhan juta rupiah ke bank untuk modal tanam.

‘’Kemungkinan besar, kami tetap akan menjual porang meski harga tidak bersahabat,’’ bebernya. (hyo/sat)

Editor : Mizan Ahsani
#pacitan #utang #porang #harga #petani