PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Sungai Grindulu semakin dangkal. Buktinya, meski musim penghujan sedimentasi sungai terpanjang di wilayah Pacitan ini terlihat jelas.
Alirannya pun kian tak beraturan. Bibir sungai yang bermuara di Pantai Pancer Door tersebut juga mengalami abrasi di banyak titik.
Abrasi yang kian tak terkendali itu mengancam beberapa rumah warga Pacitan di tepi aliran sungai ini.
Karena itu, puluhan warga dari tiga desa, yakni Sirnoboyo, Ploso dan Kembang, Pacitan, mengadu ke DPRD setempat, Kamis (1/2).
Mereka menuntut pemkab memperhatikan lahan pertanian yang kian memprihatinkan di desa-desa tersebut.
Pemkab Pacitan mengklaim, sebelum warga wadul DPRD, telah menyusun rencana untuk memperbaiki aliran sungai tersebut.
Anggaran cupet jadi alasan pemkab belum menuntaskan perbaikan tanggul Sungai Grindulu di Dusun Kiteran, Kembang.
Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan Imam Syafid angkat bicara mengenai hal itu, Jumat (2/2).
‘’Kami ajukan perbaikan jalan (akses) menuju Pelabuhan Gelon, namun harus memperbaiki boulder (dinding penguat) di sepanjang aliran Sungai Grindulu lebih dulu,’’ ujarnya.
Menurut dia, pemkab sudah mengajukan bantuan ke Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Jatim-Bali untuk pembangunan jalan ruas Kembang-Gelon.
Namun karena badan jalan sepanjang dua kilometer itu terus mengalami abrasi, BBPJN mengkaji ulang usulan pemkab.
Pun, masalah tersebut sudah kerap disampaikan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo selaku pihak yang berwenang mengurus Sungai Grindulu.
‘’Hasil koordinasi terakhir, saat ini sudah diajukan ke pemerintah pusat. Saran BBPJN agar dibangun boulder lebih dulu,’’ tambahnya
Selain di Dusun Kiteran, perbaikan tanggul juga perlu dilakukan di Dusun Mendole, Sirnoboyo.
Namun karena anggaran cupet pemkab setempat tidak dapat berbuat banyak. ‘’Menunggu keputusan pusat,’’ jelasnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani