Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Harga Beras di Pacitan Mahal Sebabkan Pengusaha Warung Makan Kelimpungan, Lancarkan Strategi Ini agar Tak Rugi

Nur Cahyono • Sabtu, 2 Maret 2024 | 13:30 WIB
ILUSTRASI: Kenaikan harga beras membuat para pelaku UMKM warung makan harus menyiasati situasi dan kondisi ini agar tetap bisa bertahan. (DOKUMEN RADAR MADIUN)
ILUSTRASI: Kenaikan harga beras membuat para pelaku UMKM warung makan harus menyiasati situasi dan kondisi ini agar tetap bisa bertahan. (DOKUMEN RADAR MADIUN)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) kuliner di Pacitan terpukul dampak kenaikan harga beras.

Bagi para pengusaha, khususnya warung makan, keuntungan yang diperoleh dari menjual nasi kian menipis.

‘’Dulu satu porsi untung Rp 2.000, sekarang Rp 1.000 saja,’’ kata Meru Kartini, pemilik warung makan di Nanggungan, Pacitan, Jumat (1/3).

Menurut dia, kondisi saat ini membuat pedagang makanan dilematis. Sebab, keuntungan tidak sebanding dengan biaya operasional.

Menaikkan harga juga bukan pilihan yang tepat.

Untuk menyiasatinya, terpaksa mengurangi porsinya. ‘’Agar tidak ada sisa yang terbuang,’’ tambahnya. 

Warungnya sehari butuh sekitar 10 kilogram beras. Dia  berharap musim panen segera datang.

Sehingga harga beras dapat segera stabil. Sebab, jika harga beras terus melambung tinggi, masyarakat akan sangat terdampak.

‘’Karena beras masih menjadi sumber karbohidrat utama yang dipilih masyarakat,’’ sambungya.

Meru memilih membeli beras jenis medium seharga Rp 16 ribu.

Alasannya, beras premium dan super harganya masih sangat tinggi.

Dia juga menambahkan, sebagai pedagang makanan, tidak mungkin membeli beras subsidi. ‘’Kalau program SPHP itu ecerannya mahal banget,’’ jelasnya. (hyo/sat)

Editor : Mizan Ahsani
#warung makan #pacitan #beras #harga #pengusaha