PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Selain mudik ke kampung halaman, momen libur Lebaran pun kerap dimanfaatkan untuk berwisata.
Bukit Sentono Gontong, Pacitan, bisa jadi salah satu destinasi.
Lansekap keindahan pantai dan penjuru Pacitan disuguhkan di sini. Momen terbaik untuk menikmati adalah saat matahari terbit atau sunrise.
Situs wisata berijaraknya hanya 15 menit dari pusat Pacitan kota. Tepatnya di Dusun Krajan, Dadapan, Pringkuku.
Waktu yang tepat untuk datang ke sini sekitar pukul 05.00.
Pada jam ini pengunjung dapat menyaksikan keindahan matahari terbit, deburan ombak berpadu dengan megahnya Gunung Limo dan birunya langit dalam satu bingkai.
Tak hanya menyuguhkan keindahan alam, tempat ini juga memiliki cerita legendaris.
Di sini ada tempat khusus yang dipasang pagar dengan rumah kecil beratap ijuk. Tempat itu diyakini sakral untuk prosesi ritual.
Menurut Kepala Desa Dadapan Ismono, di tempat ini dulu ada seorang dari Persia yang diutus untuk memasang tumbal di Sentono Gentong. Namanya Syekh Barabah Al Farizi (Syekh Brubuh).
Peristiwa itu disebut terjadi sekitar tahun 1400 M. Saat itu Pulau Jawa dikenal angker sehingga belum banyak manusia yang menghuninya.
Rencana menanam tumbal pun masih belum terlaksana.
Berikutnya, datanglah Syekh Subakir yang melanjutkan tugas. Sebelum itu, Syekh Subakir melakukan sembahyang terlebih dahulu.
Tujuannya untuk mengusir roh jahat yang masih menguasai tanah Jawa khususnya di Wengker Kidul (Pacitan).
Dengan begitu lahan yang ada bisa dihuni manusia seiring upaya penyebaran agama Islam.
‘’Tumbal itu berbentuk potongan lengan tangan. Dibungkus kain kafan dan dimasukkan ke gentong dari tanah liat,’’ sebutnya.
Potongan tulang lengan tersebut dikubur di bagian tengah batu karang. Tidak ada tanda khusus. Semua dibuat sederhana.
Hanya, setiap 70 tahun, tulang itu selalu muncul sendiri. Terakhir muncul tahun 2016.
Bahkan, tulang yang dikubur di bukit karang itu tak hanya menjadi tumbal. Dalam perjalanannya, benda tersebut juga dipercaya sebagai penyangga Pulau Jawa, khususnya Pacitan. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani