Hal itu menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di kabupaten ini.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan Budiyanto prihatin dengan viralnya video tak senonoh di media sosial (medsos).
Tanpa sungkan Budi menyebut persoalan ini merupakan pekerjaan rumah (PR) besar bagi dindik dan dunia pendidikan umumnya.
‘’Kami koordinasi dengan cabdindik (Cabang Dinas Pendidikan Jatim di Pacitan), jangan sampai lembaga pendidikan (sekolah) mengeluarkan peserta didiknya tersebut,’’ katanya kemarin.
Menurut dia, moral generasi muda butuh dibentuk oleh para pendidik atau guru, ulama dan orang tua.
Sehingga mereka tidak terjerumus pada hal-hal di luar norma agama maupun hukum.
Selain itu, bekal ajaran agama juga menjadi persoalan yang harus diperbaiki agar dapat menjadi benteng para pelajar.
‘’Lembaga sekolah harus memberikan pendampingan supaya peserta didik tidak melakukan, merekam atau mengunggah video tidak senonoh,’’ pintanya.
Selain memiliki banyak dampak positif, di sisi lain kemajuan teknologi juga dapat berdampak negatif terharap perkembangan kepribadian dan jati diri remaja.
Untuk itu, pengawasan terhadap remaja perlu ditingkatkan.
‘’Tidak cukup diserahkan kepada sekolah, peran orang tua dan masyarakat juga sangat penting,’’ tuturnya.
Budi melihat terjadinya kasus pelajar mesum ini karena persoalan moral.
Ketika berbicara masalah moral, maka sejatinya itu tidak hanya tugas pemerintah.
‘’Tetapi juga kita semua sebagai masyarakat Kabupaten Pacitan termasuk orang tua, guru serta alim ulama,’’ bebernya.
Diberitakan sebelumnya, warganet dihebohkan video mesum sepasang oknum pelajar di hutan.
Belakangan diketahui, video tersebut ternyata pernah beredar sekitar dua tahun lalu dan akhir-kahir ini viral lagi.
Saat ini pihak Polres Pacitan tengah memburu penyebar rekaman video berdurasi 2 menit 51 detik tersebut. Sedangkan dua pelajar pemeran dalam video tersebut dinggap sebagai korban. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani