PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Ibrahim, warga RT 003/RW 001, Dusun Nglebengan, Desa Menadi, Kecamatan Pacitan, tercatat sebagai calon jemaah haji (CJH) tertua Pacitan.
Tahun ini, dia bakal menunaikan ibadah haji pada usia 87 tahun. Momen bahagia itu sudah dia tunggu-tunggu sejak enam tahun lalu.
Maklum, sudah lanjut usia (lansia). Sehingga kulitnya pun sudah keriput. Bahkan pendengaranya pun mulai berkurang.
Tetapi itu tak menghalangi niat Ibrahim pergi ke Tanah Suci.
Sebelum dipastikan bisa berangkat haji, tak sedikit perjuangan berat yang dilalui kakek sembilan cucu ini.
Ibrahim harus menunggu sejak 2018. Bapak empat anak itu tidak sendiri mendaftar. Dia bersama istrinya Siti Sofanah.
Bagi Ibrahim, menunaikan ibadah haji akan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
‘’Seharusnya berangkat tahun 2022 lalu, tetapi karena Covid-19 baru bisa berangkat tahun ini,’’ katanya, Senin (13/5).
Beragam profesi pernah dijalani kakek kelahiran 30 Juni 1936 ini.
Mulai jadi kusir lima tahun, petani hingga menjadi kepala Desa Menadi dua periode pada medio 1970-an.
Untuk melunasi Biaya perjalanan ibadah haji (Bipih), Ibrahim juga tidak sepenuhnya bergantung anak-anaknya.
Setelah mendaftar, dia menjadi rajin menabung. Tubuh rentanya juga masih sanggup mengelola sawah dan mengurus ternak.
Bahkan, secara diam-diam dia menabung demi bisa memenuhi niatnya untuk beribadah haji.
‘’Juga jual tanah untuk pelunasan Rp 60 juta,’’ imbuhnya.
Menjelang pemberangkatan Senin (13/5) kemarin, sederet persiapan telah dilakukan.
Seperti bekal perjalanan, pakaian, dan perlengkapan haji lainnya.
Terpenting, faktor kesehatan dijaga secara ekstra. Upaya menjaga kesehatan dengan pola makan yang baik dan mengurangi aktivitas yang melelahkan.
Soal doa yang akan dipanjatkan di Tanah Suci, Ibrahim masih bisa bercanda.
Doanya tidak terlaku banyak, hanya ingin mendapat keselamatan dunia dan akhirat. ‘’Termasuk semoga Anda dapat menyusul berhaji,’’ ucapnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani