PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Serasa kembali ke zaman batu. Kira-kira begitulah kesan masyarakat yang memasuki wilayah Kabupaten Pacitan dari arah timur atau Trenggalek.
Itu jika menilik gapura perbatasan antardaerah yang dibangun Pemkab Pacitan senilai Rp 665 juta.
Sebelumnya, DPRD Pacitan menilai penanda tapal batas di segala penjuru sudah usang.
Pun, kurang memberi kesan mendalam perihal kabupaten yang berjuluk Kota 1001 Gua ini. Untuk menjawab itu, tahun ini gapura perbatasan dengan Trenggalek dirombak total.
Wujudnya watu tumpuk (batu bertumpuk) setinggi lima meter. Selain sebagai penanda batas wilayah, juga sebagai landmark kabupaten ini.
‘’Nantinya dijadikan ikon Kabupaten Pacitan,’’ kata Kabid Tata Bangunan Dinas Pekerjaan Umun dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan Endhit Yuniarso, kemarin (24/7).
Tugu di Desa Sumberejo, Kecamatan Sudimoro, ini dikerjakan secara bertahap yang dimulai sejak 2022 lalu. Pun telah menelan anggaran Rp 665 juta.
Selain ikon watu tumpuk di sisi utara tuga juga bakal disulap jadi rest area bagi pelintas antasdaerah. ‘’Ada tambahan relief dan batu alam,’’ ujarnya.
Kehadiran tugu batu bertumpuk ini diklaim memiliki filosofi dan makna tersendiri.
Yakni, gambaran kawasan karst Pacitan yang masuk Gunung Sewu dan telah diakui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) Global Geopark (UGG).
‘’Nanti juga ada relief yang menampilkan Geopark Gunung Sewu,’’ ungkapnya.
Beragam komentar pro-kontra pun bertebaran di dunia maya tentang pembangunan tugu selamat datang atau tapal batas tersebut.
Sementara di dunia nyata, Ria Mahesa warga setempat, khawatir bangunan sepanjang 12 meter yang melintang jalan tersebut bakal runtuh jika terjadi gempa.
‘’Enek lindu pora ambruk (Ada gempa apa tidak runtuh)?’’ tanyanya.
Sementara Suparno, warga lainya, menilai tugu tersebut merupakan cerminan kota tua.
Gambaran Kabupaten Pacitan yang masih hidup di zaman batu. ‘’Cerminan kota tua Pacitan, ikon batu,’’ sambungnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani