PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Perjuangan dan pengorbanan masyarakat Kabupaten Pacitan untuk nguri-nguri seni budaya daerah begitu luar biasa.
Buktinya pada kesenian rondha thethek (ronthek). Untuk mengikuti Festival Ronthek Pacitan 2024 lalu, mereka “rela” mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Mereka seakan terbius untuk memelejitkan pamor daerah tanpa memedulikan hadiah. Juara pertama tingkat kecamatan, misalnya.
Hadiahnya berupa uang pembinaan Rp 5 juta. Tingkat pelajar Rp 2 juta juara pertama.
‘’Nanti juga akan dibina untuk terus mengembangkan kesenian ronthek,’’ kata Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pacitan Turmudi, Selasa (23/7).
Sementara biaya yang harus dikeluarkan para peserta bisa berpuluh lipat.
Kecamatan Ngadirojo, contohnya.
Peraih penyaji unggulan ini mengeluarkan anggaran lebih dari Rp 100 juta untuk tampil di FRP 2024 yang masuk Karisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf ini.
‘’Biayanya di atas Rp 100 juta,’’ ungkap Testi, koordinator Kecamatan Ngadirojo.
Testi pun memerinci anggaran yang berasal dari urunan semua desa sekecamatan itu.
Yakni, untuk mencukupi konsumsi latihan selama berhari-hari, pengadaan peralatan, seragam pengobyong, properti, crew dan sewa sound system.
‘’Jadi memang tidak sedikit,’’ ujarnya.
FRP 2024 ini merupakan tahun kedua masuk jajaran event seni budaya berkualitas di Indonesia. Setiap peserta menampilkan karya baru yang mengangkat potensi wilayah Pacitan.
Karya tersebut disajikan secara kolosal atau kelompok. Sehingga, memang butuh biaya yang tidak sedikit. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani