Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Viral karena Bentuknya yang Tak Lazim, Gapura Perbatasan Pacitan-Trenggalek Dikritik DPRD

Nur Cahyono • Jumat, 26 Juli 2024 | 23:53 WIB
WATU TUMPUK: Tugu perbatasan dengan wilayah Kabupaten Trenggalek yang dibangun Pemkab Pacitan senilai Rp 665 juta. (ISTIMEWA)
WATU TUMPUK: Tugu perbatasan dengan wilayah Kabupaten Trenggalek yang dibangun Pemkab Pacitan senilai Rp 665 juta. (ISTIMEWA)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Tak hanya viral dan mengundang kontroversi, pembangunan gapura perbatasan antara Pacitan dan Trenggalek juga mendapat sorotan dari dewan.

Bangunan dengan konsep batu bertumpuk yang dianggap tidak lazim ini menghabiskan anggaran APBD sebesar Rp 665 juta.

Ketua Komisi IV DPRD Pacitan, Pujo Setyo Hadi, menyatakan bahwa pembangunan tugu perbatasan merupakan hasil usulan rapat gabungan komisi DPRD Pacitan.

Tujuan pembangunan ini adalah untuk mempercantik Kabupaten Pacitan, yang dikenal sebagai Kota 1001 Gua, mulai dari tapal batas wilayah dengan daerah tetangga.

"Usulan dari rapat gabungan komisi sudah sepakat bahwa tugu tersebut sebagai tapal batas dan wajah antar daerah perlu penyempurnaan," katanya.

Baca Juga: Ikuti Festival Ronthek Pacitan, Peserta Keluar Modal Ratusan Juta, Hadiahnya Rp 5 Juta

Namun, Pujo menegaskan bahwa pembangunan harus mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Pintu masuk menuju Pacitan perlu dibuat sebaik mungkin untuk menjaga marwah dan kewibawaan kabupaten yang berada di ujung barat Jawa Timur ini.

"Kurang lebihnya perlu diperbaiki, tentu semua perlu dikomunikasikan juga dengan bupati sebagai kepala daerah," tambahnya.

Pemkab diberi kebebasan untuk memilih ikon yang akan ditampilkan, namun harus sesuai dengan kekhasan wilayah kecamatan masing-masing.

Ikon kawasan Karst, misalnya, lebih identik dengan wilayah barat Pacitan.

"Kalau memang ikon kewilayahan Karst yang ditampilkan, tentu harus ditempatkan di barat, sementara di wilayah timur ada PLTU yang harus ditampilkan," tandas politikus Demokrat ini.

Pujo menganggap pro dan kontra di masyarakat tentang bangunan batu bertumpuk sepanjang 12 meter ini adalah wajar, namun yang terpenting adalah kualitas bangunan harus diutamakan.

"Secara pribadi, manakala ada yang kurang, diperbaiki sesuai desain. Jangan sampai hanya bertahan satu tahun sudah ambruk," imbaunya.

Sebelumnya, gapura perbatasan Pacitan-Trenggalek yang dibangun dengan biaya Rp 665 juta mengundang kontroversi.

Bangunan setinggi lima meter tersebut diklaim menggambarkan kawasan Karst Pacitan yang masuk dalam Gunung Sewu dan telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) Global Geopark (UGG). (hyo/naz)

Editor : Mizan Ahsani
#pacitan #trenggalek #batu #Viral #perbatasan #geopark #gapura