PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Puluhan peserta memeriahkan Festival Kreasi Sambal Nusantara.
Event tahunan ini merupakan bagian dari Festival Gerabah Lempung Agung 2024 yang bertujuan untuk memperkenalkan tembikar sebagai budaya leluhur.
Acara berlangsung di Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung.
Peserta mulai tiba sekitar pukul 07.30. Sembari menenteng beragam peralatan, mereka menuju ke deretan meja yang telah disediakan panitia sesuai nomor undian.
Perabotan seperti kompor, wajan, baskom, spatula, dan sejenisnya lantas mereka tata sedemikian rupa.
Suara riuh pun sontak terdengar begitu pembawa acara menyampaikan aba-aba lomba dimulai.
Serentak mereka meracik sambal sesuai resep masing-masing. Selama 60 menit para peserta adu keterampilan meramu aneka bumbu.
‘’Intinya proses melumat sambal hanya boleh dilakukan dengan diuleg. Tidak menggunakan blender atau penggiling,’’ kata Ruriati, penanggungjawab kegiatan, Minggu (13/10) siang.
Selain itu, semua bahan harus dibawa dalam kondisi mentah.
Keseluruhan prosesi memasak bahan baku hingga pembuatan sambal wajib dilakukan di lokasi lomba.
Peserta diperbolehkan membawa menu lain yang disajikan bersama sambal yang dibuat.
‘’Penilaiannya mulai dari pembuatan sambal sampai penyajian bersama bahan pelengkap lainnya,’’ ujarnya.
Para peserta yang semua emak-emak tampak antusias berpartisipasi dalam gelaran tersebut.
Suara bersin dan batuk pun bersahutan menyusul bau dari asap sambal yang menyengat.
Tak sedikit yang menyeka air mata gegara butiran air dari bawang merah yang bercampur cabai.
Hasilnya, beragam menu masakan pun siap disajikan. Mulai sambal udang, sambal kecombrang, sambal cabuk, hingga sambal petai. Juga resep-resep lain khas Nusantara.
Menu-menu tersebut ditata apik di atas meja lengkap dengan lalapan.
‘’Kami sengaja membikin sambal udang petai karena bahan-bahannya mudah didapatkan di Pacitan. Ibaratnya sudah jadi menu sehari-hari,’’ ungkap Jamilah, seorang peserta dari Desa Sumberharjo, yang sangat mengapresiasi event kuliner yang baru pertama kali digelar ini.
Terlebih, Kabupaten Pacitan memiliki cukup banyak varian makanan khas.
Sehingga, potensi yang ada harus diperkenalkan kepada khalayak luas untuk memperkaya khazanah menu Nusantara.
‘’Soal menang atau kalah itu bukan yang utama. Yang penting kami bisa menunjukkan eksistensi menu lokal. Syukur-syukur bisa dikenal seantero Indonesia,’’ harapnya.
Sementara Rening Astuti, penggagas kegiatan mengatakan event yang digelar kali ini merupakan lanjutan dari Festival Gerabah yang diselenggarakan tahun lalu. Temanya pun masih sama.
Yaitu memperkenalkan Desa Purwoasri sebagai sentra gerabah di Kabupaten Pacitan.
Terobosan itu dilakukan dengan menampilkan produk gerabah hampir di semua sesi kegiatan.
Dimulai dari workshop pembuatan gerabah, fashion show dengan membawa gerabah, kreasi sambal nusantara yang perlatannya wajib menggunakan gerabah, dan sedekah gerabah.
‘’Puncaknya prosesi lempung agung. Yakani, mengambil lempung sebagai bahan baku gerabah dari lokasi khusus yang dipilih sejak zaman nenek moyang,’’ jelasnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani