Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Apakah Daging dan Susu Hewan yang Terpapar PMK Aman? Begini Penjelasan DKPP Pacitan

Nur Cahyono • Kamis, 9 Januari 2025 | 23:00 WIB
Ilustrasi daging segar. (FREEPIK)
Ilustrasi daging segar. (FREEPIK)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun -  Masyarakat tidak perlu khawatir mengonsumsi daging maupun susu.

Kendati saat ini wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sedang menyerang hewan ternak, khususnya sapi.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan memastikan daging dan susu hewan yang terpapar PMK aman dikonsumsi.

Sapi yang dipotong paksa karena sakit akibat terpapar PMK tidak berbahaya dan tak menular pada manusia.

‘’Sebab, PMK bukan termasuk penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya,’’ kata Wahyu Indra Santosa, petugas medik veteriner DKPP Pacitan, kemarin (8/1).

Menurut dokter hewan ini, penyakit yang menyebabkan luka lepuh pada mulut dan kuku ternak itu hanya menular ke sesama hewan berkuku belah.

Seperti sapi, kambing, domba, dan babi. Dengan demikian, daging dari ternak yang terpapar PMK aman dikonsumsi.

‘’Daging dan susu dari ternak yang terjangkit PMK yang dipotong paksa itu tidak berbahaya, bisa dikonsumsi,’’ tegasnya.

Wahyu menyebutkan, meski bisa disembuhkan, sejumlah peternak biasanya melakukan potong paksa terhadap ternak yang mengalami PMK karena khawatir keburu mati.

‘’Selagi tidak ada komplikasi penyakit lain seperti antraks dan LSD, daging dan susu sapi yang terkena PMK aman dikonsumsi,’’ ungkapnya.

Dia menyarankan agar bagian daging yang disembelih direbus terlebih dahulu sebelum dimasak.

Hal ini untuk menghindari penyebaran penyakit melalui benda dan kulit manusia yang terkontaminasi liur ternak beriwayat PMK.

‘’Jeroannya disarankan tidak konsumsi,’’ tambahnya.

Begitu pula susu yang dihasilkan ternak perah. Serangan PMK dipastikan tak bepengaruh pada keamanan serta kualitas susu.

Saat ini upaya memutus persebaran PMK yang telah menjangkiti ratusan ternak sapi di Kabupaten Pacitan terus dilakukan dengan pemberian obat antibiotik, vitamin B kompleks hingga sterilisasi.

Dia menambahkan, kasus PMK yang mewabah di sejumlah daerah menjangkiti ternak yang belum mendapat vaksin.

Hal itu cocok dengan kebanyakan sapi yang mati adalah anakan alias pedhet.

Sapi yang terkena PMK biasanya tak mau makan sehingga harus disuapi.

‘’Mulutnya seperti sariawan. Jadi, nafsu makan turun,’’ bebernya.

Adapun penyebaran penyakit ini bisa melalui kontak langsung dengan sapi yang sebelumnya terpapar.

Selain itu, kontak dengan benda yang terkontaminasi virus juga dapat menyebabkan ternak terinfeksi.

‘’Kami mengimbau sapi yang sakit dan sehat dipisahkan. Peternak tidak mendatangi lokasi yang ada sapi terkena PMK karena justru takutnya dari sana ada kotoran atau apa pun yang bisa menularkan,’’ pintanya. 

Sementara itu Anggota Komis II DPRD Pacitan Warkhim Sutarto menyarankan agar daging yang tepapar PMK dimasak hingga matang.

Langkah ini untuk membunuh kuman sekaligus menbunuh virus PMK yang dapat menyebar melalui aktivitas manusia.

‘’Sebaiknya daging dimasak di suhu tinggi di atas 40 derajat Celcius,’’ jelas legislator yang juga  seorang dokter ini. (hyo/sat)

 

 

Editor : Mizan Ahsani
#pacitan #Aman #sapi #kambing #susu #daging #pmk