PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kabupaten Pacitan memiliki rekam jejak sejarah dinamika kekuasaan lokal dan kolonial.
Hal ini tercatat dalam buku Peristiwa Buah Pace karya sejarawan Inggris Peter Carey.
Buku ini mengisahkan asal-usul Pacitan yang berakar dari peristiwa simbolis antara Setroketipo, abdi Pangeran Mangkubumi, dengan buah pace yang dinarasikan tidak hanya merefleksikan aspek politis, tetapi juga makna budaya dan ekonomi.
Menurut Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Pacitan Amat Taufan, buku ini menjadi koleksi perpustakaan daerah (perpusda) pun sebagai dasar penetapan hari jadi Kabupaten Pacitan pada 19 Februari.
Narasi ini menegaskan peristiwa kecil persembahan buah pace dapat menjadi elemen fundamental dalam pembentukan identitas suatu daerah.
Berdasarkan sumber babad, Setroketipo diangkat sebagai Tumenggung di Nanggunan setelah mempersembahkan buah pace kepada Pangeran Mangkubumi yang saat itu mengalami kesulitan di hutan.
Selain wujud loyalitas, juga menandai dimulainya struktur pemerintahan di wilayah tersebut. Sebagai penghormatan, wilayah Nanggunan kemudian diberi nama Pacitan.
Setelah Setroketipo wafat, kepemimpinan dilanjutkan putranya Tumenggung Setrowijoyo I.
‘’Namun, ketika kolonialisme mulai menancapkan pengaruhnya di Jawa, dinamika politik lokal berubah drastis. Tumenggung Setrowijoyo II yang menggantikan ayahnya menghadapi tekanan besar dari Belanda hingga memilih mengungsi ke gunung di Desa Bandar,’’ katanya, Senin (18/2).
Setelah kepergian Setrowijoyo II, pemerintahan Pacitan diambil alih Demang Arjoyoniman, seorang pemimpin lokal yang awalnya modin (pemuka agama).
Dia dikenal mampu mengelola Pacitan dengan stabilitas yang relatif baik.
‘’Namun, stabilitas tersebut tidak lepas dari bayang-bayang kontrol kolonial,’’ tambahnya.
Belanda kemudian menempatkan pejabat opsiner di Pacitan yang dalam perkembangannya berubah status menjadi asisten residen di bawah Betawi (Batavia) atau Jakarta.
Perubahan ini menandai proses integrasi Pacitan ke dalam struktur Keresidenan Madiun yang mengindikasikan semakin kuatnya hegemoni kolonial dalam pemerintahan lokal.
Kala itu Pacitan juga mengalami perkembangan signifikan dalam aspek keagamaan.
Kiai Joyoniman, yang diangkat sebagai bupati kedua setelah Inggris mengambil alih Pacitan pada 1812, merupakan figur penting dalam penyebaran Islam di Pacitan. ‘’Dia bergelar Kiai Tumenggung Jogokaryo I, dan keturunannya terus mewarisi kepemimpinan di Pacitan,’’ jelasnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani