Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Janggelan Jadi Bahan Minuman Favorit selama Ramadan, Produksi di Pacitan Naik 10 Kali Lipat

Nur Cahyono • Minggu, 23 Maret 2025 | 01:05 WIB
MENJANJIKAN: Haris Kuswanto, pengusaha janggelan yang juga Kepala Desa Jeruk, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, meraup banyak cuan selama bulan Ramadan.
MENJANJIKAN: Haris Kuswanto, pengusaha janggelan yang juga Kepala Desa Jeruk, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, meraup banyak cuan selama bulan Ramadan.

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Ramadan membawa berkah bagi perajn atau produsen janggelan.

Salah satunya Haris Kuswanto, warga Desa Jeruk, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan. Produksinya meningkat hingga sepuluh kali lipat selama Ramadan tahun ini.

Sehingga cuan yang didapat pun berlipat-lipat.

Bagi masayarakat desa setempat, janggelan atau cincau hitam bukan sekadar bahan minuman segar.

Tapi juga sumber penghidupan banyak orang. Haris, yang biasanya hanya memroduksi 40 hingga 60 ember janggelan per hari, kini harus menyiapkan hingga 500 ember.

Begitu pun tenaga kerjanya. Jika hari biasa hanya empat orang pekerja. Tapi selama Ramadan, dia hartus menambah tenaga kerja hingga 12 orang.

‘’Bahkan, sistem kerja jadi dua sif agar produksi tetap lancar,’’ katanya kemarin (21/3).

Janggelan khas Pacitan terkenal karena kualitasnya super. Proses pembuatannya butuh ketelitian.

Daun janggelan kering direbus selama tujuh jam hingga menghasilkan sari yang kental.

Setelah itu, air rebusan dipisahkan dari ampasnya. Lalu didiamkan hingga mengeras (agak kenyal) menjadi cincau hitam yang siap dikemas.

Setiap ember besar janggelan bisa menghasilkan sekitar 25 kemasan mangkuk. Harganya Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per mangkuk.

Per hari mampu melepas 350 kilogram cincau hitam ke pasaran. Tak hanya di Pacitan, janggelan produksi Haris juga didistribusikan ke Ponorogo dan Wonogiri, Jawa Tengah.

Baca Juga: Dua Gerbang Tol di Madiun Sempat Macet Parah hingga 10 Kilometer pada Lebaran 2024, Polres Siapkan Langkah Antisipasi

Biasanya saat musim hujan, sambung dia, janggelan lebih lambat habisnya. Tapi pengecualian pada Ramadan ini. Sebab, meskipun masih musim penghujan, permintaan tetap tinggi.

‘’Para pedagang pasti mengambil stok baru keesokan paginya,’’ jelas pria yang juga kepala Desa Jeruk ini.

Selain memperpanjang jam produksi, Haris juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Bagi dia, Ramadan bukan sekadar waktu ibadah, tetapi juga kesempatan meningkatkan pendapatan.

Dengan bahan baku yang melimpah di Kecamatan Bandar dan Nawangan, usaha janggelan di Pacitan terus berkembang.

Janggelan yang dikenal sebagai jeli alami berbahan nabati ini semakin populer. Terutama sebagai bahan minuman segar untuk takjil berbuka puasa. (hyo/sat)

Editor : Mizan Ahsani
#pacitan #janggelan #ramadan #cincau hitam