PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Saat kabanyakan orang masih terlelap, sekelompok pendaki menapaki jalur setapak menuju puncak Bukit Tompe.
Udara dingin menyelimuti tubuh, suara jangkrik dan desir angin menjadi musik pengiring perjalanan. Tujuan mereka satu: menyaksikan matahari terbit dari salah satu sudut terbaik di Pacitan.
Terletak di Desa Tamanasri, Kecamatan Pringkuku, Bukit Tompe Pacitan menjadi primadona pencinta alam.
Di ketinggian 508 meter di atas permukaan laut (mdpl), destinasi ini menghadirkan panorama menakjubkan. Salah satu spot terbaik untuk menyaksikan sunrise!
Gumpalan awan menyerupai ombak lautan menghampar di antara perbukitan hijau.
Edwin, salah seorang pengunjung, memilih berangkat sebelum fajar demi mengejar momen sunrise.
‘’Kira-kira pukul 03.00, saya langsung berangkat. Perjalanan naik ke puncak sekitar 30 menit, udara dingin dan suasana tenang bikin hati terasa damai,’’ tutur laki-laki 26 tahun ini.
Sampai di puncak, Edwin dan rombongan disambut pemandangan yang luar biasa. Langit mulai berpendar, perlahan berubah dari gelap menuju jingga keemasan.
Sejauh mata memandang, hamparan awan bergulung lembut, seolah menutupi daratan yang masih terlelap.
‘’Ini seperti berkah. Setelah melewati perjalanan, kami disuguhi keindahan yang luar biasa. Rasanya semua lelah langsung terbayar,’’ sambungnya.
Bagi Robby, pengunjung lainnya, Bukit Tompe bukan sekadar tempat berburu matahari terbit, tetapi juga ruang refleksi diri.
Dia menghabiskan waktu di puncak dengan membaca Alquran dan berzikir sambil menunggu fajar sempurna.
‘’Di sini, saya merasa lebih dekat dengan Allah. Alam seolah mengajarkan kita untuk bersyukur atas segala ciptaan-Nya,’’ ucapnya.
Banyak pengunjung yang datang tidak hanya untuk sekadar menikmati sunrise, tetapi juga berkemah.
Harga tanda masuk (HTM) yang sangat terjangkau Rp 2.000 per orang dan Rp 30.000 per tenda membuat tempat ini semakin diminati para petualang.
Bagi warga Pacitan dan sekitarnya, Bukit Tompe adalah tempat yang tepat untuk mengisi waktu setelah menjelng subuh dengan pengalaman spiritual yang lebih mendalam.
Menanti matahari terbit di tempat ini bukan hanya tentang keindahan visual, tetapi juga perjalanan batin yang menghadirkan ketenangan.
Ketika cahaya mentari akhirnya muncul sempurna, menghangatkan bumi dan mengusir sisa embun, satu hal yang terasa jelas; di Bukit Tompe, fajar bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga pengingat akan kebesaran Sang Pencipta. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani