PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Aroma coklat tercium dari sebuah rumah di Lingkungan Barehan, Kelurahan Ploso, Pacitan.
Di dapur kecilnya, Linda Widyawati bersama adiknya sibuk mencetak coklat berbagai bentuk.
Ramadan dan Lebaran membawa berkah bagi usaha rumahan ini. Pesanan melonjak hingga sepuluh kali lipat dari biasanya.
Ada karakter kartun seperti Tayo dan bebek, ada pula motif khas Lebaran seperti ketupat dan masjid.
Linda dengan telaten menuangkan coklat cair ke dalam cetakan, memastikan setiap detail warna sesuai dengan karakter yang dibuat.
‘’Misalnya untuk bebek, harus kuning cerah. Tayo, harus kombinasi biru dan hitam. Semuanya dikerjakan manual,’’ kata perempuan 28 tahun ini.
Setelah dicetak, coklat-coklat mini ini didinginkan selama 15 menit sebelum siap dikemas.
Dalam sehari, Linda dan adiknya bisa memroduksi hingga empat kilogram coklat.
‘’Saat Ramadan, pesanan datang bertubi-tubi. Kadang sampai kewalahan menerima orderan,’’ ungkapnya.
Usaha coklat karakter ini merupakan buah pengalaman bekerja di industri serupa di Malang. Linda pulang ke Pacitan pada 2019 dengan membawa ilmu dan semangat berwirausaha.
Kini, produknya semakin dikenal, tidak hanya sebagai camilan, tetapi juga sebagai oleh-oleh dan hantaran Lebaran.
Dengan harga Rp 50 ribu per stoples berisi 250 gram coklat, Linda mampu meraup omzet hingga Rp 15 juta selama Ramadan.
“Bagi saya, coklat bukan sekadar makanan. Ini adalah cara saya menyebarkan kebahagiaan, terutama di momen spesial seperti Ramadan dan Lebaran,’’ tuturnya.
Linda membuktikan bahwa usaha rumahan bisa tumbuh besar dengan kreativitas dan ketekunan.
Ramadan dan Lebaran tak hanya membawa berkah bagi umat Islam, tetapi juga bagi mereka yang berani bermimpi dan berusaha.
Diah Wahyu Mentari, pelanggan setianya, selalu memesan coklat buatan Linda setiap tahun.
‘’Bentuknya lucu-lucu, rasanya enak, dan anak-anak suka. Cocok buat suguhan Lebaran atau hadiah,’’ ujarnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani