Pagi cerah menyambut estafet kepemimpinan di Mapolres Pacitan. AKBP Ayub Diponegoro Azhar resmi menggantikan AKBP Agung Nugroho sebagai pucuk pimpinan kepolisian di Kota Seribu Goa.
NUR CAHYONO, Jawa Pos Radar Madiun
BAGI Ayub, Pacitan bukan sekadar tempat bertugas. Ini amanah besar yang dia terima dengan sepenuh hati.
Komitmennya jelas, menjaga keamanan dan kenyamanan warga dari berbagai ancaman, sambil terus membangun hubungan humanis antara polisi dan masyarakat.
Nama Ayub bukan sosok baru dalam dinamika penegakan hukum di Jawa Timur.
Publik mungkin masih ingat aksinya yang heroik saat membebaskan seorang bocah SD dari aksi penculikan dan penyanderaan di Gresik pada 2014.
Saat itu, Ayub yang menjabat Kasatreskrim bersama Kodim Gresik berhasil menggagalkan aksi keji tersebut.
Peristiwa itu tak hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga mengembalikan rasa aman masyarakat.
Lulusan Akpol 2006 ini dikenal sebagai sosok disiplin dan berdedikasi. Kariernya malang melintang.
Pernah menjadi Kasatreskrim di Polres Sidoarjo dan Polres Gresik, Ayub juga sempat bertugas di Bareskrim Polri.
Tak cukup di situ, dia turut memperkuat KPK sebagai penyidik dan ikut membongkar kasus besar, termasuk yang menyeret mantan Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah.
Baca Juga: Manfaat Puasa Senin Kamis untuk Kesehatan dan Spiritualitas, Salah Satunya Bisa Remajakan Sel Kulit
Kini, sebagai Kapolres Pacitan, Ayub membawa semangat baru. Dalam sambutan perdananya, Kamis (18/4) lalu, Ayub menegaskan bahwa keamanan adalah fondasi utama kemajuan daerah.
’’Kami mohon dukungan semua pihak untuk meningkatkan keamanan dan pelayanan kepolisian yang humanis,’’ katanya.
Dia juga memberi perhatian khusus pada jalur strategis Pacitan-Jogjakarta yang menjadi urat nadi pariwisata dan ekonomi.
’’Akses vital ini harus aman dan nyaman, baik untuk warga maupun wisatawan,’’ ujarnya.
Lebih dari sekadar rutinitas patroli, Ayub ingin membangun kedekatan emosional antara polisi dan masyarakat.
Baginya, keamanan akan terwujud jika warga merasa menjadi bagian dari solusi.
’’Kalau hubungan polisi dan warga kuat, keamanan itu jadi milik bersama,’’ tandasnya.
Ayub Diponegoro Azhar hadir bukan sekadar sebagai komandan. Dia membawa semangat sebagai pelindung dan sahabat masyarakat.
Seperti di Gresik dulu, keberanian, ketegasan, dan ketulusan tetap menjadi bekalnya menjaga Bumi Pacitan. ***(her)
Editor : Hengky Ristanto