Jawa Pos Radar Madiun – Terik matahari tak menyurutkan langkah Salini Rengganis Iedewa menuju bibir Pantai Teleng Ria, Minggu (20/4).
Dengan kaki kanan terikat tali papan dan tangan menggenggam papan selancar erat, Salini mencuri perhatian.
Bukan sekadar aksi di atas ombak, namun busana yang dia kenakan membuat decak kagum.
Saat itu, dia mengenakan kebaya dan jarik, pakaian tradisional Jawa bersama dengan para peselencar perempuan lainnya.
Salini memang punya cara sendiri mengenang semangat sang pelopor emansipasi, RA Kartini.
Berselancar dengan kebaya menjadi tradisi tahunan perempuan asal Pacitan itu. Bedanya, kali ini momentumnya bertepatan dengan gelaran Pacitan Surfing Contest.
’’Tiap tahun saya selalu memperingati Hari Kartini dengan pakai kebaya. Senang banget bisa surfing bareng perempuan-perempuan hebat dari Pacitan dan Jogja,’’ ujar Salini.
Tak hanya peselancar perempuan yang tampil unik, peserta laki-laki pun ikut mengenakan jarik dan lurik khas Pacitan.
Nuansa budaya dan keberanian menyatu dalam gulungan ombak pantai selatan.
Meski terlihat anggun, Salini mengaku berselancar dengan kebaya bukan hal mudah.
Jarik yang basah membuat keseimbangan sulit terjaga. Bahkan, saat tergulung ombak, kain kerap terlepas.
’’Emang susah banget surfing pakai kebaya. Apalagi ombak tadi pagi lumayan besar. Ada juga yang jariknya sempat lepas,’’ ungkap surfer girl berusia 25 tahun itu.
Namun, semua kesulitan itu tak menghalangi semangat. Justru jadi simbol perjuangan dan keberanian perempuan.
’’Semangat kami seperti semangat Ibu Kartini. Perempuan juga bisa menantang ombak, menantang dunia,’’ terang perempuan yang berdomisili di Baleharjo, Pacitan, itu.
Salini berharap, aksi kecilnya ini bisa menjadi pemantik semangat bagi para perempuan di Pacitan dan Indonesia.
Menurutnya, perempuan harus diberi ruang untuk terus bermimpi, berkarya, dan mengekspresikan diri.
’’Dari sini, saya yakin akan lahir banyak surfer perempuan hebat dari pesisir selatan Jawa,’’ pungkasnya. (hyo/her)
Editor : Mizan Ahsani