Jawa Pos Radar Madiun – Aktivitas jual beli di Pasar Minulyo, Kelurahan Baleharjo, Pacitan, kian hari makin lesu.
Pasar tradisional yang dulu ramai, kini sepi pengunjung. Para pedagang pun mengeluh karena omzet terus menurun, bahkan banyak kios yang dibiarkan tutup.
Pemkab Pacitan mengakui kondisi ini sebagai bagian dari mati surinya pasar tradisional di wilayah kota.
Menurut Kepala Dinas Perdagangan dan Ketenagakerjaan (Disdagnaker) Pacitan Acep Suherman, pergeseran minat masyarakat menjadi penyebab utama.
“Kalau pasar desa masih stabil. Tapi di kota, orang lebih memilih belanja lewat online shop. Sayur banyak tersedia di kios 24 jam, pakaian dibeli lewat aplikasi,” ujarnya, Jumat (9/5).
Kondisi ini juga diperburuk oleh kurangnya ketertarikan generasi muda terhadap pasar tradisional.
Upaya menghidupkan kembali pasar melalui kolaborasi dengan karang taruna dan media sosial sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan.
“Kami sudah coba lewat TikTok, belum maksimal. Sekarang kami siapkan konsep pasar digital. Masih kami godok,” ungkap Acep.
Ia menyebut, digitalisasi pasar di Pacitan tertinggal dibanding daerah lain.
Produk lokal belum terpromosikan dengan baik, sementara online shop justru dipenuhi produk dari luar daerah.
Di sisi lain, jumlah pedagang aktif terus menyusut. Banyak kios yang masih disewa tetapi jarang dibuka.
“Sentra kuliner pun hanya sedikit yang bertahan. Banyak pedagang pindah ke pinggir jalan. Kondisinya memang seperti mati suri,” tutup Acep. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto