Jawa Pos Radar Pacitan – Temuan tanah positif antraks di Desa Belah, Kecamatan Donorojo, dan Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, membuat peternak waswas.
Hasil laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Yogyakarta memastikan adanya jejak bakteri penyebab penyakit mematikan itu di dua lokasi.
‘’Semua harus waspada,’’ kata Petugas Medik Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan Wahyu Indra Santosa, kemarin (29/10).
DKPP langsung menyiapkan langkah antisipatif berupa penyemprotan desinfektan dan vaksinasi 30 ribu dosis.
Seluruh ternak di wilayah terdampak disarankan tidak dipindahkan atau dijual sementara waktu.
“Kami juga lakukan isolasi sementara untuk mencegah penyebaran,” ungkap Indra.
Indra meminta warga segera melapor bila menemukan ternak mati mendadak.
Ia menegaskan, warga dilarang mendekati atau menyentuh bangkai sebelum petugas datang.
“Penularan antraks bisa melalui kontak langsung, udara, atau luka terbuka,” ujarnya.
Menurutnya, tindakan darurat harus dilakukan dengan benar.
Bangkai ternak wajib dikubur minimal 10 meter dari permukaan tanah, ditaburi kapur, lalu ditutup cor beton.
“Spora antraks bisa bertahan pada suhu di atas 100 derajat celsius. Jadi jangan ambil risiko,” ucapnya.
Untuk disinfeksi mandiri, warga bisa menggunakan pemutih pakaian yang mudah ditemukan di rumah tangga.
Ia juga mengingatkan agar tidak sembarangan memberi antibiotik maupun mengambil pakan dari lokasi yang tak jelas asalnya.
“Warga harus tenang tapi tetap waspada, dan aktif melapor jika ada gejala mencurigakan pada ternak,” pungkas Indra. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto