Jawa Pos Radar Madiun — Hingga kini belum ada tokoh asal Pacitan yang resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional.
Namun, harapan itu menguat lewat sosok KH Hamid Dimyathi, pengasuh Pondok Pesantren Tremas, Arjosari, yang tengah diusulkan untuk memperoleh gelar kehormatan tersebut.
Usulan KH Hamid Dimyathi telah menembus tingkat nasional setelah sebelumnya mendapat rekomendasi dari Gubernur Jawa Timur.
Pengajuan itu didasari kontribusi besar sang kiai dalam perjuangan kemerdekaan, pengembangan pendidikan, dan kemajuan pesantren di Indonesia.
Meski demikian, nama KH Hamid Dimyathi belum masuk daftar 10 tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, kemarin (10/11).
“Memang belum masuk, masih ada beberapa persyaratan yang perlu dilengkapi,” kata Sekretaris Dinas Sosial Pacitan Luky Puspitosari.
Menurut Luky, pada awal 2025 pihaknya telah diminta melengkapi sejumlah dokumen pendukung, termasuk karya tulis tentang sang kiai.
Dinsos Pacitan juga menyerahkan buku Jejak Juang Kiai Hamid Dimyathi yang kini sudah diarsipkan di Perpustakaan Nasional.
“Dinsos sudah diminta mencukupi persyaratan yang kurang,” ujarnya.
KH Hamid Dimyathi dikenal sebagai ulama sekaligus pejuang berpemgaruh.
Ia berperan besar dalam mempertahankan keutuhan NKRI.
Saat pemberontakan PKI tahun 1948, ia bersama para santri dan ulama dari Magetan serta Ponorogo menentang gerakan tersebut.
Dalam perjalanannya menuju Yogyakarta untuk meminta dukungan pemerintah pusat, KH Hamid yang juga anggota KNIP dari Masyumi ditangkap pasukan PKI di Wonogiri dan dibunuh di wilayah Tirtomoyo.
Jasadnya sempat dibuang ke sumur sebelum akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti, Jurug, Surakarta.
Sebagai bentuk penghormatan, nama KH Hamid Dimyathi kini diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Pacitan.
Harapan besar masyarakat pun tertuju pada pengakuan negara terhadap pengorbanan beliau sebagai Pahlawan Nasional. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto