Jawa Pos Radar Pacitan – Kepala SMKN Tulakan Evi Dhian Asmoro menghadirkan inovasi kepemimpinan bertajuk DEDAK untuk memperkuat eksplorasi ide dan kreativitas warga sekolah.
Program tersebut merupakan akronim dari Dengarkan, Eksplorasi Ide, Dampingi, Ajak Ngobrol, Kolaboratif.
Sekolah yang berada di Desa Ketroharjo pada ketinggian sekitar 800 MDPL itu dihuni 300 siswa serta 45 guru dan tenaga kependidikan.
Kondisi geografis yang menantang menjadi alasan Evi mendorong pemanfaatan potensi internal secara maksimal.
“Target besar yang ingin dicapai adalah tumbuhnya ide-ide kreatif untuk kemajuan sekolah,” ujarnya.
DEDAK lahir setelah rangkaian evaluasi pembelajaran dan pengamatan langsung di lingkungan sekolah.
Minimnya ruang eksplorasi ide dinilai menjadi hambatan utama.
Padahal, atmosfer belajar dan potensi SDM sangat mendukung tumbuhnya kreativitas.
Program tersebut kemudian dijalankan untuk memberi ruang aman, memperkuat komunikasi, dan menegaskan peran kolaboratif guru serta siswa.
Implementasi DEDAK salah satunya dilakukan melalui tantangan branding produk sekolah.
Guru dan siswa bekerja sama membuat desain kemasan, melakukan promosi digital, serta menyesuaikan konsep produk dengan standar industri.
Produk yang semula hanya bahan latihan kini bernilai jual dan memberi manfaat ekonomi.
“Hasilnya sangat positif dan membuat warga sekolah lebih percaya diri,” jelasnya.
Evi mengakui masih ada kekurangan, terutama dalam merangkul seluruh ide yang muncul akibat keterbatasan teknis.
Untuk keberlanjutan program, pihaknya memperkuat jejaring dengan dunia industri agar sekolah mendapat akses pendampingan dan informasi secara lebih luas.
Evi optimistis DEDAK menjadi landasan pengembangan potensi siswa maupun guru.
“Dengan DEDAK, sekolah semakin mantap menumbuhkan kreativitas dan budaya kolaboratif,” pungkasnya. (suc/her/adv)
Editor : Hengky Ristanto