Jawa Pos Radar Pacitan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pacitan tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi peserta didik.
Di balik aktivitas ribuan porsi masakan setiap hari, program ini diam-diam membuka peluang kerja baru bagi ratusan warga.
Mulai dari tenaga dapur, juru masak, driver, hingga staf pendukung SPPG kini mendapatkan pekerjaan yang lebih pasti dibanding sebelumnya.
Salah satunya adalah Dian Sanjaya, warga Dusun Betulo, Desa Bangunsari.
Sebelum bekerja di SPPG Sidoharjo 3, penghasilannya tidak menentu sebagai driver serabutan.
Kini rutinitas dan pendapatannya jauh lebih stabil.
“Kalau di SPPG ini jam kerja sudah diatur, begitu juga penghasilannya. Beda saat jadi driver yang kadang dapat, kadang tidak,” ujarnya, Minggu (30/11).
Cerita serupa datang dari SPPG Alsa Food milik Rinawati di Lingkungan Barehan, Sidoharjo.
Dapur tersebut mempekerjakan warga dari berbagai latar belakang.
Mulai mantan kuli bangunan yang kini menjadi driver pengantar makanan, remaja yang sebelumnya menganggur, hingga ibu rumah tangga yang kini punya penghasilan rutin.
Menurut Rinawati, keberadaan SPPG turut menggerakkan ekonomi lokal.
Bahan pangan yang mereka serap sebagian besar berasal dari UMKM dan petani Pacitan.
“Pacitan ini potensi pertanian dan perikanannya besar. Seminggu sekali kami memakai bahan ikan laut yang UMKM olah jadi risoles atau nugget,” jelasnya.
Setiap hari, satu SPPG dapat memproduksi sekitar 2.700 porsi makanan bergizi.
Kebutuhan bahan lokal meningkat, membuat rantai ekonomi perikanan, pertanian, dan UMKM terus bergerak.
Program MBG Pacitan kini didukung 20 SPPG yang sudah beroperasi, sementara 15 dapur lainnya dalam tahap pembangunan.
Setiap SPPG rata-rata mempekerjakan 30–50 orang, sehingga terbuka antara 600–1.000 lapangan kerja baru.
Angka tersebut menjadi efek turunan positif dari program yang awalnya hanya fokus pada peningkatan gizi siswa. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto