Jawa Pos Radar Pacitan – Keindahan pantai selatan Pacitan kembali diuji jelang libur akhir tahun.
Meski menawarkan panorama yang memikat, destinasi laut di Pacitan masih menghadapi persoalan klasik: keselamatan wisatawan.
Setiap tahun selalu ada laporan wisatawan terseret ombak atau tenggelam karena kurang memahami karakter pantai selatan yang dikenal berombak besar.
Sejumlah insiden sepanjang 2025 menjadi pengingat keras.
Pada Juni, empat wisatawan tenggelam di Pantai Pancer Dorr.
Sebulan sebelumnya, dua wisatawan asal Wonogiri meninggal di Pantai Klayar.
April lalu, tiga wisatawan dari Ponorogo terseret arus muara saat berenang.
Rangkaian kejadian itu, menurut pemerintah daerah, tidak boleh terulang.
Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pacitan kini meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Satu unit perahu karet disiagakan di Pantai Watu Karung mulai pekan kedua Desember.
“Penempatan di Watu Karung karena posisi strategis, bisa bergerak ke barat atau timur. Di sana juga ada keterbatasan peralatan,” ujar Kabid Pemasaran Pariwisata dan Pengembangan SDM Disparbudpora Pacitan, Rahmad Adi Mandego, Selasa (9/12).
Selain peralatan penyelamatan, Disparbudpora juga menggelar bimbingan teknis (bimtek) untuk 50 lifeguard dari berbagai destinasi.
Pelatihan difokuskan pada peningkatan kemampuan penyelamatan air untuk menghadapi lonjakan pengunjung.
Namun, Rahmad mengakui kebutuhan lifeguard Pacitan masih jauh dari memadai.
Contohnya, Pantai Klayar idealnya memiliki 24 lifeguard, tetapi hingga kini baru tersedia delapan petugas.
“Kebutuhan masih banyak. Pantai dengan kunjungan tinggi perlu dukungan petugas yang memadai,” ujarnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto