Jawa Pos Radar Pacitan – Masalah kesehatan mental di Jawa Timur kian mendapat perhatian serius.
Tidak hanya menyasar masyarakat umum, aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga dilaporkan mengalami gangguan kecemasan hingga depresi.
Fakta tersebut disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jawa Timur, Waritsah Sukarjiyah.
Waritsah mengatakan, kesehatan mental menjadi salah satu fokus utama Pemprov Jatim melalui program Jatim Sehat yang dirancang berjalan selama lima tahun ke depan.
Program tersebut dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan rumah sakit, termasuk target tujuh rumah sakit berstandar akreditasi internasional.
Sebagai penguatan layanan kesehatan jiwa, Pemprov Jatim juga menggulirkan program SEHATI JATIM (Sentra Sehat Jiwa Jawa Timur) yang mengusung konsep Mental Wellness and Happiness Service.
Program ini diluncurkan menyusul meningkatnya temuan gangguan kesehatan mental berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG).
’’Berdasarkan data RSJ Menur, tren kasus depresi dan kecemasan terus meningkat. ASN juga ditemukan bermasalah terkait depresi,’’ ujar Waritsah.
Ia menekankan pentingnya peran puskesmas dalam melakukan pendataan lebih rinci melalui hasil skrining CKG.
Data tersebut diperlukan untuk memetakan jumlah ASN maupun masyarakat umum yang mengalami gangguan kecemasan dan depresi.
Meski demikian, Waritsah belum memerinci faktor utama penyebab gangguan mental di kalangan ASN.
Namun, ia mengungkapkan bahwa fenomena judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) memiliki korelasi kuat dengan meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental.
’’Kedua persoalan ini bahkan sedang dibahas bersama Bapemperda Jatim untuk dirumuskan dalam regulasi khusus,’’ tegasnya.
Kondisi serupa juga terlihat di Kabupaten Pacitan.
RSUD dr. Darsono mencatat lonjakan signifikan kunjungan pasien ke poli jiwa.
Sejak 2024 hingga Oktober 2025, tercatat sebanyak 7.528 pasien menjalani layanan kesehatan mental. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto