Jawa Pos Radar Pacitan — Kabupaten Pacitan turut berkontribusi dalam peningkatan signifikan luasan hutan mangrove di Jawa Timur.
Dalam kurun empat tahun terakhir, sejak 2021 hingga 2024, ekosistem mangrove Jawa Timur bertambah 3.618 hektare atau naik 13,29 persen, dengan rata-rata penambahan lebih dari 900 hektare per tahun.
Berdasarkan data terbaru, luas mangrove Jawa Timur kini mencapai 30.839,3 hektare.
Capaian tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan kawasan mangrove terluas di Pulau Jawa, dengan kontribusi sekitar 48,38 persen dari total luasan mangrove se-Jawa.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan capaian itu saat menghadiri Festival Mangrove ke-9 Jawa Timur yang digelar di Pacitan, Senin (22/12) sore.
Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Watumejo Mangrove Park, Desa Kembang, Kecamatan Pacitan, dan ditandai dengan penanaman bibit mangrove bersama musisi Kaka Slank.
Menurut Khofifah, pelestarian mangrove merupakan langkah strategis dalam menghadapi dampak perubahan iklim, sekaligus melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan gelombang ekstrem.
“Mangrove tidak hanya berfungsi secara ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir. Karena itu, upaya pelestariannya harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Rangkaian Festival Mangrove ke-9 diawali dengan touring vespa mengelilingi Kota Pacitan, dilanjutkan pelepasliaran burung air secara simbolis.
Selanjutnya, seluruh peserta melakukan penanaman bibit mangrove di kawasan muara pantai sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan pesisir.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi menyampaikan bahwa mangrove memiliki peran strategis dalam pengendalian karbon dan penurunan emisi gas rumah kaca.
Penanaman mangrove menjadi bagian penting kontribusi sektor kehutanan terhadap target nasional penurunan emisi.
Ia menjelaskan, Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen secara mandiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030.
Jawa Timur sendiri mendapat target kontribusi penurunan emisi sekitar 140 juta ton CO₂ equivalent, salah satunya melalui rehabilitasi mangrove.
“Peningkatan luasan mangrove ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak melalui rehabilitasi hutan dan lahan serta kampanye mitigasi perubahan iklim menuju net zero emission 2060,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji mengapresiasi pelaksanaan Festival Mangrove ke-9 di wilayahnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut membawa manfaat jangka panjang bagi kelestarian ekosistem pesisir Pacitan.
“Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pantai dan melindungi wilayah pesisir Pacitan dari abrasi,” ujarnya.
Di sisi lain, musisi Kaka Slank menekankan pentingnya edukasi lingkungan kepada generasi muda.
Mangrove, menurutnya, harus dikenalkan sejak dini, terutama kepada generasi Z.
“Mereka adalah penjaga lingkungan di masa depan, sehingga kesadaran merawat alam harus terus ditanamkan,” tegasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto