Jawa Pos Radar Pacitan – Kerusakan fondasi Dam Ngancar di Desa Bogoharjo, Kecamatan Ngadirojo, mulai mendapat perhatian serius.
Penanganan awal telah dilakukan, meski masih bersifat darurat untuk menjaga fungsi vital bendungan tersebut.
Anggota DPRD Pacitan Heriawan mengatakan, langkah awal yang dilakukan berupa pengalihan aliran sungai menggunakan alat berat.
Upaya itu bertujuan agar suplai air ke lahan pertanian warga tetap berjalan meski sebagian struktur dam mengalami kerusakan.
“Untuk sementara, dam yang jebol ditanggulangi dengan pemasangan jumbo bag. Kerja sama antara masyarakat, BBWS, dan Dinas PUPR,” ujar Heriawan, kemarin (24/12).
Ia menegaskan, penanganan darurat tersebut tidak cukup untuk jangka panjang.
DPRD mendorong pemerintah daerah segera menyiapkan perbaikan permanen.
Sumber pendanaan yang diusulkan berasal dari pos belanja tidak terduga (BTT) Tahun Anggaran 2026.
“Harapan kami pemda sepakat, dam ini sangat vital,” tegasnya.
Heriawan menuturkan, Dam Ngancar memiliki peran strategis bagi aktivitas ekonomi masyarakat Ngadirojo.
Selain berfungsi sebagai sarana pengairan utama lahan pertanian, dam tersebut juga berperan mengendalikan debit air dari dua sungai besar yang bermuara di kawasan tersebut.
Dua sungai dimaksud yakni Sungai Wonodadi Kulon yang melintasi wilayah Sembowo, Klepu, serta Sungai Nogosari yang mengalir dari Tanjunglor, Ngumbul, hingga Wonokarto.
“Itu di luar fungsi pengairan utama lahan pertanian,” ungkapnya.
Tak hanya itu, di atas Dam Ngancar juga terdapat jembatan yang menjadi akses penghubung sejumlah desa.
Jalur tersebut menghubungkan Desa Bogoharjo, Desa Wonodadi Wetan, hingga Desa Cokrokembang menuju pusat Kecamatan Ngadirojo.
Kerusakan dam yang terjadi sejak Selasa (16/12) itu dinilai berpotensi mengganggu mobilitas dan roda ekonomi warga jika tidak segera ditangani secara menyeluruh.
“Dam Ngancar sangat penting bagi ekonomi warga Ngadirojo secara umum,” pungkas Heriawan. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto