PACITAN – Bencana alam masih menjadi ancaman serius di Kabupaten Pacitan.
Sepanjang periode 1 Januari hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 339 peristiwa bencana terjadi di wilayah tersebut.
Tanah longsor menjadi jenis bencana yang paling mendominasi.
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko mengatakan, dari ratusan kejadian tersebut, tanah longsor tercatat sebanyak 224 peristiwa.
Selain itu, terdapat 31 kejadian pohon tumbang, 16 kebakaran, 10 tanah ambles, tiga angin kencang dan puting beliung, serta 11 kejadian orang hilang.
“Yang paling mendominasi memang tanah longsor,” ujarnya, Senin (29/12).
Rentetan bencana itu berdampak signifikan terhadap sektor permukiman dan infrastruktur.
Data BPBD mencatat sebanyak 231 rumah warga mengalami kerusakan.
Rinciannya, tujuh rumah rusak berat, 31 rusak sedang, 109 rusak ringan, serta 84 rumah rusak sangat ringan akibat bencana.
Kerusakan juga melanda fasilitas umum. Total terdapat 128 fasilitas publik terdampak, dengan dominasi kerusakan pada akses jalan sebanyak 77 titik dan talud di 34 titik.
Selain itu, sejumlah sekolah, tempat ibadah, serta jembatan turut mengalami kerusakan.
Dari sisi korban, bencana alam sepanjang 2025 menyebabkan 15 orang meninggal dunia.
Selain itu, empat orang dilaporkan mengalami luka-luka atau sakit, serta 29 warga sempat mengungsi akibat dampak bencana.
Saat kunjungan ke Pacitan pada Senin (22/12) lalu, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyebut Pacitan menjadi wilayah prioritas penanganan bencana di Jawa Timur.
Fokus utama penanganan diarahkan pada potensi tsunami, mengingat sebagian wilayah Pacitan berada di dataran rendah.
“Namun potensi bencana lain seperti longsor dan banjir juga tidak boleh diabaikan,” kata Gatot. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto