Jawa Pos Radar Pacitan – Kecenderungan petani menggunakan pupuk kimia masih kuat.
Hal itu tercermin dari rendahnya serapan pupuk organik bersubsidi di Kabupaten Pacitan sepanjang 2025.
Kepala Bidang Sarana, Prasarana, dan Penyuluh Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan Susilo Budi menyebut, pupuk organik menjadi jenis dengan tingkat serapan paling rendah dibandingkan pupuk kimia.
“Serapan pupuk organik paling rendah dibandingkan pupuk kimia,” katanya, Selasa (30/12).
Berdasarkan rekapitulasi hingga akhir Desember, realisasi penyaluran pupuk organik baru mencapai 764 ton dari total alokasi 1.296 ton.
Artinya, masih tersisa 532 ton atau sekitar 41,02 persen yang belum dimanfaatkan petani.
“Realisasi serapan baru 58,98 persen dari total alokasi tahun ini,” ungkapnya.
Susilo menegaskan, pemanfaatan pupuk organik perlu terus didorong agar alokasi yang telah disiapkan pemerintah tidak terbuang sia-sia.
Apalagi pupuk organik memiliki peran penting dalam memperbaiki struktur tanah dan mendukung pertanian berkelanjutan.
“Jika tidak terserap hingga akhir tahun, sisa alokasi pupuk bersubsidi akan dikembalikan ke pemerintah pusat,” ujarnya.
Meski demikian, secara umum penyaluran pupuk bersubsidi di Pacitan dinilai cukup tinggi.
Dari total alokasi 25.293 ton untuk seluruh jenis pupuk, realisasi penyaluran mencapai 23.983,229 ton atau sekitar 94,82 persen.
Rinciannya, Urea: alokasi 11.791 ton, tersalurkan 11.117,113 ton, sisa 673,887 ton.
NPK: alokasi 12.187 ton, tersalurkan 12.082,696 ton, sisa 104,304 ton.
NPK Formula Khusus: serapan 100 persen dari alokasi 19 ton.
Organik: alokasi 1.296 ton, terserap 764 ton.
“Masih tersisa sekitar 1.309,771 ton pupuk bersubsidi dari berbagai jenis,” tandas Susilo. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto